Ajula, Manusia Pencipta dan Lahirnya Kebudayaan

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 06:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Guru Muhir ( Repoq Literasi)

Abstrak

Artikel ini membahas konsep ‘ajūlā dalam QS. Al-Isra’ [17]: 11, وَكَانَ الْإِنسَانُ عَجُولًا, yang secara umum diterjemahkan sebagai kecenderungan manusia untuk tergesa-gesa. Sejumlah tafsir klasik memahami ‘ajūlā sebagai karakter manusia yang cepat dalam meminta, bereaksi, dan menghendaki sesuatu tanpa mempertimbangkan akibatnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Artikel ini menawarkan pembacaan interdisipliner dengan menghubungkan konsep tersebut dengan manusia sebagai makhluk pencipta kebudayaan dan pembangun peradaban.

Dalam perspektif ini, ‘ajūlā tidak direduksi menjadi sekadar kelemahan moral, tetapi dibaca sebagai salah satu kecenderungan eksistensial manusia untuk merespons lingkungan, mengubah keadaan, menciptakan alat, membangun tata sosial, dan memberi makna terhadap kehidupan.

Namun, kreativitas yang lahir dari dorongan tersebut baru menjadi kebudayaan apabila mengalami proses pemaknaan, pengulangan, pewarisan dan institusionalisasi. Dengan demikian, kebudayaan dapat dipahami sebagai hasil dialog antara dorongan manusia untuk mencipta dan kemampuan manusia untuk mengendalikan, menyempurnakan serta mewariskan ciptaannya.

Dari kebudayaan yang terorganisasi, berkembang pengetahuan, institusi, teknologi dan sistem nilai yang pada akhirnya membentuk peradaban.

Kata kunci: ‘ajūlā, Al-Qur’an, manusia, kebudayaan, kreativitas, peradaban.

1. Pendahuluan

Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap manusia. Manusia tidak hanya digambarkan sebagai makhluk biologis, tetapi juga sebagai makhluk yang memiliki kehendak, pengetahuan, keinginan, kelemahan dan kemampuan untuk menentukan tindakan. Salah satu gambaran tersebut terdapat dalam QS. Al-Isra’ [17]: 11:

وَكَانَ الْإِنسَانُ عَجُولًا

Wa kānal-insānu ‘ajūlā

“Dan manusia itu bersifat tergesa-gesa.”

Dalam tafsir al-Tabari, ayat tersebut dikaitkan antara lain dengan kecenderungan manusia memohon sesuatu secara tergesa-gesa, bahkan dalam keadaan marah dapat mendoakan keburukan bagi dirinya, anak atau hartanya.  Ibn Kathir juga menjelaskan ‘ajūlā dalam hubungan dengan sifat tergesa-gesa dan ketidaksabaran manusia.

Konsep tersebut menarik apabila ditempatkan dalam kajian kebudayaan. Manusia adalah makhluk yang tidak sekadar menerima dunia sebagaimana adanya. Manusia mengolah dunia. Batu dijadikan alat, tanah diolah menjadi pertanian, kayu dijadikan rumah, bahasa digunakan untuk berkomunikasi, makanan diolah menjadi tradisi kuliner, ruang diberi simbol, dan pengalaman diwariskan menjadi pengetahuan.

Dengan demikian, terdapat pertanyaan konseptual: apakah kecenderungan manusia yang digambarkan Al-Qur’an sebagai ‘ajūlā dapat dibaca sebagai salah satu dorongan yang ikut menjelaskan mengapa manusia selalu mencipta, mengubah dan membangun kebudayaan?

Artikel ini tidak bermaksud mengubah makna tafsir ‘ajūlā. Sebaliknya, artikel ini mencoba memperluas ruang dialog antara teks keagamaan dan ilmu kebudayaan.

2. ‘Ajūlā sebagai Karakter Manusia

Secara tekstual, ‘ajūlā menunjuk pada sifat tergesa-gesa. Tafsir klasik memberikan beberapa penjelasan mengenai karakter tersebut. Al-Tabari mencatat pandangan yang menghubungkannya dengan ketergesa-gesaan manusia dalam berdoa dan menghendaki sesuatu.

Al-Qur’an juga menggunakan konstruksi yang berdekatan dalam QS. Al-Anbiya’ [21]: 37:

خُلِقَ الْإِنسَانُ مِنْ عَجَلٍ

Khuliqal-insānu min ‘ajal

“Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa.”

Ibn Kathir menghubungkan ayat ini dengan QS. Al-Isra’ [17]: 11 dan menjelaskan bahwa manusia mempunyai kecenderungan tergesa-gesa dalam berbagai urusan.

Dengan demikian, ‘ajūlā dapat dipahami sebagai salah satu gambaran tentang dinamika perilaku manusia: manusia mempunyai keinginan, melihat sesuatu yang belum dimilikinya, kemudian berusaha mendapatkannya.

Pada tingkat tertentu, keinginan tersebut menjadi energi perubahan.

Manusia melihat alam, lalu berusaha mengolahnya. Manusia menghadapi keterbatasan, lalu menciptakan alat. Manusia menghadapi jarak, lalu menciptakan sarana transportasi. Manusia menghadapi keterbatasan komunikasi, lalu menciptakan bahasa, tulisan, teknologi informasi dan berbagai bentuk simbol.

Di sinilah ‘ajūlā dapat dibaca secara filosofis sebagai dorongan untuk bergerak dari keadaan sekarang menuju keadaan yang diinginkan.

Namun, dorongan tersebut mempunyai dua sisi.

Ia dapat menghasilkan kreativitas, tetapi juga dapat menghasilkan tindakan tanpa pertimbangan. Ia dapat melahirkan inovasi, tetapi dapat pula melahirkan kerusakan apabila manusia kehilangan kemampuan mengendalikan keinginannya.

Baca Juga :  NARASI: Gubernur Iqbal Memerlukan Humor Komedian

3. Dari Keinginan Menjadi Penciptaan

Manusia tidak hanya memiliki keinginan; manusia mempunyai kemampuan mengubah keinginan menjadi karya.

Dalam perspektif antropologi, kebudayaan berkaitan dengan keseluruhan cara manusia belajar, berpikir, bertindak, menciptakan simbol, membangun hubungan sosial dan mengorganisasikan kehidupan. Karena itu, manusia dapat dipahami sebagai makhluk pencipta kebudayaan.

Di sini dapat dibangun sebuah rantai konseptual:

keinginan → tindakan → penciptaan → pemaknaan → pengulangan → pewarisan → kebudayaan.

Misalnya, manusia membutuhkan makanan. Pada tingkat biologis, makanan sekadar diperlukan untuk mempertahankan kehidupan. Tetapi manusia kemudian memilih bahan tertentu, mengembangkan teknik pengolahan, menentukan rasa, cara penyajian, waktu penyajian, aturan siapa yang boleh memasak, makanan apa yang disajikan dalam upacara, serta nilai apa yang dilekatkan pada makanan tersebut.

Pada titik itu, makanan tidak lagi sekadar benda biologis.

Ia telah menjadi kebudayaan.

Dalam konteks inilah ‘ajūlā dapat ditempatkan sebagai salah satu pintu masuk untuk memahami dinamika kreativitas manusia. Dorongan untuk memperoleh sesuatu membuat manusia bertindak; tindakan yang berulang melahirkan kebiasaan; kebiasaan yang memperoleh legitimasi sosial berkembang menjadi tradisi; tradisi yang diwariskan menjadi bagian dari kebudayaan.

4. Kebudayaan sebagai Proses, Bukan Sekadar Produk

Salah satu kekeliruan dalam memahami kebudayaan adalah menganggap kebudayaan hanya sebagai benda atau warisan masa lampau.

Kebudayaan sesungguhnya adalah proses manusia menciptakan makna.

Rumah bukan sekadar bangunan. Pakaian bukan sekadar kain. Makanan bukan sekadar bahan yang dimasak. Bahasa bukan sekadar kumpulan kata. Upacara bukan sekadar rangkaian kegiatan.

Semuanya memperoleh nilai kebudayaan karena manusia memberikan makna kepadanya.

Dalam perspektif ini, kebudayaan merupakan hasil dari kemampuan manusia mengubah pengalaman menjadi simbol, simbol menjadi nilai, nilai menjadi kebiasaan, dan kebiasaan menjadi sistem kehidupan.

Karena itu, manusia yang ‘ajūlā bukan hanya manusia yang ingin segera mendapatkan sesuatu. Dalam pembacaan filosofis, ia adalah manusia yang tidak berhenti pada keadaan yang sudah ada.

Ia bertanya:

Mengapa harus begini?

Bisakah dibuat lebih baik?

Bagaimana kalau dibuat dengan cara lain?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang membuka ruang kreativitas.

5. Dari Kebudayaan Menuju Peradaban

Kebudayaan dan peradaban mempunyai hubungan yang erat tetapi tidak identik.

Kebudayaan memberikan manusia makna, nilai, simbol dan cara hidup. Ketika pengetahuan, teknologi, institusi, sistem hukum, pendidikan, ekonomi dan organisasi sosial berkembang semakin kompleks dan terstruktur, kebudayaan memasuki dimensi peradaban.

Dengan demikian, dapat dibuat suatu konstruksi konseptual:

Manusia → keinginan → tindakan → penciptaan → kebudayaan → pengetahuan dan institusi → peradaban.

Peradaban pada akhirnya bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ia merupakan akumulasi kreativitas manusia yang berlangsung lintas generasi.

Sebuah masyarakat membangun sistem irigasi bukan hanya karena membutuhkan air. Di belakangnya terdapat pengetahuan tentang alam, pembagian kerja, aturan sosial, kepemimpinan, teknologi dan nilai kebersamaan.

Begitu pula tulisan. Ia mungkin bermula dari kebutuhan menyimpan informasi. Tetapi setelah berkembang, tulisan memungkinkan pengetahuan disimpan, dikritik, diajarkan dan diwariskan lintas generasi.

Di sinilah penciptaan manusia menemukan bentuk peradabannya.

6. ‘Ajūlā dan Paradoks Peradaban

Namun terdapat paradoks yang perlu diperhatikan.

Jika ‘ajūlā dibaca sebagai kecenderungan manusia untuk segera memenuhi keinginannya, maka peradaban dapat lahir dari dorongan tersebut. Tetapi peradaban juga membutuhkan kemampuan menahan diri.

Manusia ingin cepat memperoleh hasil, sementara kebudayaan membutuhkan proses.

Manusia ingin menguasai alam, sementara keberlanjutan membutuhkan keseimbangan.

Manusia ingin menciptakan teknologi, tetapi teknologi membutuhkan etika.

Manusia ingin membangun, tetapi pembangunan membutuhkan pengetahuan tentang akibat.

Karena itu, peradaban bukan sekadar kemampuan manusia untuk menciptakan sesuatu. Peradaban adalah kemampuan manusia mengendalikan ciptaannya agar tidak berbalik menghancurkan kehidupan.

Baca Juga :  "Barisan Para Mantan"

Dengan demikian, ‘ajūlā menghadirkan sebuah dialektika:

Manusia terdorong untuk mencipta karena ia menginginkan perubahan; tetapi manusia membutuhkan kebijaksanaan agar perubahan tidak kehilangan arah.

7. Relevansi bagi Kebudayaan Sasak

Pembacaan tersebut menjadi semakin menarik apabila diterapkan pada kebudayaan Sasak.

Berbagai unsur kebudayaan Sasak—arsitektur, bahasa, tata krama, pangan, kesenian, pengetahuan ekologis, sistem sosial dan tradisi—dapat dilihat sebagai hasil kreativitas manusia dalam merespons lingkungan dan pengalaman sejarah.

Bale, berugaq, warige, pengetahuan pangan, tata hubungan sosial, serta berbagai bentuk ritual tidak lahir hanya sebagai benda atau aktivitas. Di dalamnya terdapat pengetahuan dan nilai.

Maka, kebudayaan Sasak tidak seharusnya dipahami sebagai sesuatu yang selesai.

Jika generasi terdahulu menciptakan kebudayaan berdasarkan tantangan zamannya, generasi sekarang juga mempunyai tanggung jawab untuk menciptakan kebudayaan berdasarkan tantangan zamannya—tanpa kehilangan akar nilai yang diwariskan.

Dalam konteks inilah ungkapan “kebudayaan bukan masa lalu saja” memperoleh landasan filosofis.

Kebudayaan adalah dialog antara masa lalu, masa kini dan masa depan.

8. Gastronomi sebagai Contoh Manusia Pencipta

Gagasan ini sangat relevan dengan gastronomi.

Manusia pada awalnya makan karena kebutuhan biologis. Tetapi manusia kemudian menciptakan berbagai cara memperoleh, mengolah dan menyajikan makanan.

Dari sini lahir resep, teknik memasak, peralatan, pembagian peran, aturan makan, pantangan, simbol, upacara dan identitas.

Maka, gastronomi memperlihatkan dengan sangat jelas bagaimana kebutuhan biologis dapat berkembang menjadi kebudayaan dan kemudian menjadi bagian dari peradaban.

Dalam konteks Sasak, misalnya, makanan tradisional tidak cukup dilihat dari rasa dan bahan. Ia dapat dikaji melalui sejarah, lingkungan, pengetahuan lokal, relasi sosial, ritual, ekonomi dan identitas masyarakat.

Dengan demikian, gastronomi bukan sekadar persoalan “apa yang dimakan”, tetapi juga pertanyaan:

Mengapa makanan itu diciptakan? Siapa yang menciptakannya? Dalam lingkungan seperti apa? Nilai apa yang melekat di dalamnya? Bagaimana pengetahuan itu diwariskan? Dan bagaimana ia berubah ketika masyarakat berubah?

9. Kesimpulan

‘Ajūlā dalam QS. Al-Isra’ [17]: 11 secara tekstual menggambarkan kecenderungan manusia untuk tergesa-gesa. Tafsir klasik menempatkannya terutama dalam konteks ketidaksabaran dan kecenderungan manusia meminta sesuatu tanpa mempertimbangkan akibatnya.

Namun, sebagai pembacaan interdisipliner, konsep tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memahami manusia sebagai makhluk yang senantiasa bergerak, merespons, mengubah dan menciptakan.

Dari dorongan manusia lahir tindakan. Dari tindakan lahir penciptaan. Dari penciptaan lahir makna. Dari makna yang diulang dan diwariskan lahirlah kebudayaan. Ketika kebudayaan berkembang menjadi pengetahuan, teknologi, institusi dan tata kehidupan yang kompleks, terbentuklah peradaban.

Dengan demikian, ‘ajūlā tidak perlu dipahami sebagai “kebudayaan” secara literal. Lebih tepat apabila ia diposisikan sebagai salah satu karakter manusia yang dapat membantu menjelaskan dinamika penciptaan kebudayaan.

Pada akhirnya, manusia bukan hanya penghuni dunia.

Manusia adalah pencipta dunia kebudayaannya sendiri.

Ia menerima alam sebagai kenyataan, kemudian mengolahnya menjadi makna. Ia menerima kehidupan sebagai keadaan, kemudian mengubahnya menjadi pengalaman. Ia menerima kebutuhan, kemudian menciptakan teknologi. Ia menerima makanan, kemudian menciptakan gastronomi. Ia menerima kehidupan sosial, kemudian menciptakan norma, adat dan institusi.

Namun Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia mempunyai kecenderungan ‘ajūlā. Karena itu, tantangan kebudayaan dan peradaban bukan hanya bagaimana manusia menciptakan, tetapi juga bagaimana manusia belajar menahan diri, mempertimbangkan akibat, memberi makna, dan mewariskan ciptaannya secara bertanggung jawab.

Dengan kata lain:

“‘Ajūlā adalah manusia yang ingin segera bergerak; kebudayaan adalah jejak dari geraknya; sedangkan peradaban adalah ketika jejak itu berhasil diolah menjadi pengetahuan, nilai, institusi dan kehidupan bersama yang diwariskan lintas generasi.”***

 

Penulis : Guru Muhir

Editor : Suluh NTB Editor

Berita Terkait

Kalimantan Berasap, Pemerintah Sibuk Tiup Lilin?
Prabowo, Blunder, atau Strategi Pemetaan Barisan?
“Sejarah Bukan Kutukan: Dekonstruksi Mitos Guru Dane dalam Membaca Korupsi Lombok Barat”
Keributan Itu Tidak Lahir dalam Semalam
Powerless Society dan Pragmatisme Politik dalam Pemilihan Kepala Desa
NARASI : Partai Politik dan Negara, Ketika Demokrasi Kehilangan Arah
Iqbal-Dinda: Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem di NTB
NARASI: Bangkitnya Kelas Menengah, Kurva Gajah

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 06:54 WIB

Ajula, Manusia Pencipta dan Lahirnya Kebudayaan

Senin, 24 Agustus 2026 - 12:42 WIB

Kalimantan Berasap, Pemerintah Sibuk Tiup Lilin?

Selasa, 18 Agustus 2026 - 09:11 WIB

Prabowo, Blunder, atau Strategi Pemetaan Barisan?

Kamis, 30 Juli 2026 - 12:25 WIB

“Sejarah Bukan Kutukan: Dekonstruksi Mitos Guru Dane dalam Membaca Korupsi Lombok Barat”

Rabu, 29 Juli 2026 - 23:27 WIB

Keributan Itu Tidak Lahir dalam Semalam

Berita Terbaru

NARASI

Ajula, Manusia Pencipta dan Lahirnya Kebudayaan

Sabtu, 10 Okt 2026 - 06:54 WIB