Di era digital, kampanye politik sudah berubah. Dulu politisi memasang baliho sebanyak-banyaknya. Sekarang cukup satu kalimat di podium, lalu netizen dan media ikut bekerja.
Gaya komunikasi Prabowo menarik dicermati. Banyak orang menganggap Pak Prabowo sering salah ucap, keliru menyebut angka, atau membuat pernyataan yang kemudian menjadi bahan perdebatan. Sebagian menyalahkan pembisiknya. Sebagian lagi menganggapnya blunder.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tapi bagaimana kalau kita melihatnya dari perspektif komunikasi politik?
Bukan berarti setiap kesalahan pasti disengaja. Itu belum tentu. Namun secara marketing politik ada hukum sederhana:
Selama orang membicarakan kita, perhatian sudah kita dapatkan.
Satu pernyataan kontroversial menjadi headline, lalu viral. Dari ribuan komentar terlihat siapa yang membela, menyerang, netral, atau mendadak menjadi “pengamat politik dadakan”.
Gratis pula.
Tak perlu membeli iklan. Cukup podium, mikrofon, kamera, lalu internet mengerjakan sisanya.
Dalam perspektif strategi, pola ini bisa dibaca sebagai pemetaan barisan.
Di militer ada konsep feint attack: gerakan seolah menyerang satu arah untuk melihat respons lawan. Dalam politik mekanismenya berbeda, tetapi logikanya mirip: pernyataan memunculkan respons, dan respons itu menjadi data.
Siapa yang langsung membela?
Siapa yang menyerang?
Siapa yang ikut-ikutan?
Siapa yang diam?
Semua bisa dibaca.
Nah, di sinilah muncul contoh-contoh angka yang kemudian menjadi bahan tertawaan publik. Misalnya kisah tukang kupas bawang: disebut penghasilannya Rp700 ribu per kilogram, lalu sehari mampu menyelesaikan 10 kilogram. Kalau dihitung mentah-mentah, berarti Rp7 juta sehari. Sebulan? Bisa lebih dari Rp200 juta.
Belum selesai.
Ada pula cerita tentang tempat penggilingan padi yang disebut menghasilkan pendapatan hingga triliunan rupiah setahun.
Angka-angka seperti ini tentu harus diperiksa konteks dan sumbernya. Jangan sampai omzet, laba, dan penghasilan pribadi dicampur seperti es campur.
Tetapi secara komunikasi politik, efeknya jelas: orang langsung membicarakannya.
Media punya bahan. Netizen punya bahan meme. Oposisi punya bahan kritik. Pendukung punya bahan pembelaan.
Semua bergerak.
Dan jika ingin membaca peta sosial-politik, respons publik justru menjadi informasi berharga.
Di titik ini Prabowo punya kemiripan tertentu dengan Donald Trump.
Trump sangat memahami ekonomi perhatian: kontroversi memancing media, media memancing publik, publik memperbesar kontroversi, dan nama Trump kembali memenuhi ruang pemberitaan.
Bedanya sederhana:
Trump punya Twitter. Prabowo punya podium.
Trump mengetik, internet ribut.
Prabowo bicara, internet juga ribut.
Namun jangan buru-buru menyimpulkan semua ucapan keliru memang dirancang. Bisa saja memang salah atau spontan.
Yang menarik justru bagaimana sebuah kontroversi kemudian dimanfaatkan.
Bayangkan rapat tim setelah viral:
“Pak, hasil monitoring?”
“Barisan A membela. Barisan B menyerang.
Barisan C bingung. Barisan D bikin meme.”
“Bagus. Petanya mulai kelihatan.”
😂
Mungkin kita merasa sedang mengoreksi sebuah blunder. Padahal tanpa sadar kita bisa saja ikut menyebarkan pesan politik secara gratis.
Inilah kampanye digital: perhatian adalah mata uang baru.
Publik tetap harus cek fakta. Jangan karena viral lalu dianggap benar, dan jangan karena lucu langsung dianggap bohong.
Jadi, apakah Prabowo sengaja “ngawur” untuk memetakan barisan?
Belum tentu.
Apakah politisi bisa memanfaatkan kontroversi untuk memperoleh perhatian dan membaca respons publik?
Sangat mungkin.
Dan mungkin inilah pelajaran politik digital hari ini:
Kadang yang terlihat seperti blunder bukan akhir dari strategi.
Bisa jadi justru awal strategi berikutnya.
Sementara kita?
Masih ribut di kolom komentar.
Besok muncul headline baru.
Kita ribut lagi.
Gratis lagi.
Dan mesin politik tetap berjalan. 😔
Penulis : Wiedmust
Editor : SuluhNTB Editor










































