SULUHNTB.COM — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bagi masyarakat Sasak tidak sekadar menjadi tradisi keagamaan, tetapi juga menjadi salah satu cara mengekspresikan kecintaan kepada Rasulullah sekaligus wujud rasa syukur sebagai umat Nabi Muhammad SAW.
Semangat tersebut tercermin dalam kegiatan peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Yayasan Swadaya Membangun (YSM), Senin, 31 Agustus 2026. Mengusung tajuk “Ngaji Budaya”, kegiatan tersebut menghadirkan budayawan Sasak, Guru Muhir, serta penceramah kondang Lombok Timur, TGH Latif.
Kegiatan yang dihadiri mahasiswa, akademisi, jajaran YSM, Ali Dahlan Center, karyawan BSK, serta sejumlah aktivis dan pentolan LSM di Lombok Timur itu berlangsung dalam suasana penuh perhatian. Materi yang disampaikan Guru Muhir bahkan mendapat perhatian khusus dari peserta karena menghadirkan pendekatan yang relatif berbeda dalam memaknai Maulid Nabi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Guru Muhir tidak hanya berbicara tentang Nabi Muhammad SAW dari perspektif sejarah dan keagamaan, tetapi mengajak peserta melihat sosok Rasulullah melalui tiga landasan filsafat ilmu, yakni ontologi, epistemologi dan aksiologi.
Dalam perspektif ontologi, kajian diarahkan pada pertanyaan tentang siapa dan hakikat Nabi Muhammad. Epistemologi kemudian membawa peserta pada pertanyaan tentang bagaimana pengetahuan mengenai Nabi Muhammad diperoleh dan diwariskan, termasuk melalui khazanah manuskrip Sasak. Sementara aksiologi mengajak melihat nilai, manfaat dan relevansi ajaran serta keteladanan Nabi Muhammad bagi kehidupan manusia.
Yang membuat kajian tersebut semakin menarik adalah cara Guru Muhir menyampaikan materi dengan memadukan referensi keagamaan, tradisi intelektual Sasak, syair dan tembang mapacapat Sasak.
Ia mengembangkan sejumlah tembang yang disarikan dari naskah kuno Kartanah, sebuah manuskrip yang memuat kisah dan pemaknaan mengenai apa, siapa dan bagaimana Nabi Muhammad sebelum kelahiran beliau, bahkan dalam narasi kosmologis sebelum terciptanya alam semesta.
Tidak berhenti pada penjelasan lisan, Guru Muhir juga memperlihatkan sumber rujukan berupa manuskrip lama bertuliskan Jejawan dan Pègon. Kedua bentuk aksara tersebut menjadi bagian penting dalam upayanya menunjukkan bahwa masyarakat Sasak memiliki tradisi literasi yang merekam pengetahuan keagamaan dan kebudayaan dari generasi ke generasi.
Dengan merujuk langsung pada naskah-naskah tersebut, Guru Muhir membawa peserta memasuki ruang kajian yang mempertemukan agama, filsafat, bahasa, sastra lisan dan manuskrip Sasak. Pendekatan itu sekaligus menunjukkan bahwa Maulid dapat menjadi ruang untuk membaca kembali warisan intelektual masyarakat melalui perspektif yang lebih luas.
Ali Bin Dahlan, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, secara terbuka mengakui bahwa materi yang disampaikan Guru Muhir memberikan perspektif yang berbeda.
Ia menyampaikan bahwa materi tentang Maulid yang dikaji Guru Muhir merupakan sesuatu yang baru baginya, terutama karena pembahasan Nabi Muhammad ditempatkan dalam kerangka ontologi, epistemologi dan aksiologi, sekaligus dikaitkan dengan khazanah manuskrip Sasak.
Kegiatan kemudian tidak berhenti pada ceramah. Peringatan Maulid tersebut ditutup dengan diskusi terbuka mengenai materi yang telah disampaikan para penyaji. Forum diskusi menjadi ruang bagi peserta untuk bertanya, menguji gagasan, sekaligus memperluas pemahaman tentang hubungan antara Nabi Muhammad, tradisi keilmuan Islam dan kebudayaan Sasak.
Melalui “Ngaji Budaya”, Maulid Nabi akhirnya tidak hanya ditempatkan sebagai perayaan kelahiran Rasulullah, tetapi juga sebagai ruang membaca, berpikir dan menggali kembali ingatan intelektual masyarakat Sasak; bahwa kecintaan kepada Nabi bukan hanya dirayakan, tetapi juga dapat diwujudkan dengan terus mempelajari, memahami dan menghidupkan nilai-nilai yang diwariskannya.***
Penulis : SN-05
Editor : SuluhNTB Editor










































