Kalimantan Berasap, Pemerintah Sibuk Tiup Lilin?

Senin, 24 Agustus 2026 - 12:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Catatan Tangan Kanan Wiedmust*)

Kalimantan sedang tidak baik-baik saja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Asap karhutla mengganggu aktivitas warga. Api menjadi persoalan serius. Udara yang seharusnya menjadi hak paling dasar manusia justru harus diperjuangkan.

Karena itu, ketika Presiden Prabowo Subianto turun langsung ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah pada 22 Agustus 2026, publik tentu berharap ada percepatan penanganan. Pesannya jelas: karhutla bukan persoalan kecil.

Bahkan muncul kabar pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam mendapat mandat untuk membantu mengoordinasikan penanganan karhutla. Namun informasi itu kemudian dibantah Mensesneg Prasetyo Hadi. Istana menegaskan tidak ada penunjukan Haji Isam sebagai koordinator khusus. Yang benar, semua pihak diminta ikut membantu penanganan.

Artinya, negara sedang bekerja.

Maka terasa agak janggal ketika perhatian publik di Kalimantan Tengah justru tersedot oleh sesuatu yang sebenarnya sederhana: ucapan selamat ulang tahun.

Pada 21 Agustus 2026, sejumlah akun resmi perangkat daerah Pemprov Kalimantan Tengah mengunggah ucapan ulang tahun untuk Aisyah Thisia Agustiar Sabran, istri Gubernur Kalteng Agustiar Sabran, yang genap berusia 27 tahun.

Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan ucapan selamat ulang tahun.

Yang menjadi pertanyaan adalah momentumnya.

Ketika masyarakat berhadapan dengan asap, petugas berjibaku di lapangan, dan pemerintah pusat datang membawa pesan bahwa karhutla harus segera ditangani, mengapa kanal komunikasi pemerintah justru ramai dengan ucapan ulang tahun?

Baca Juga :  NARASI: Terorisme Negara Modern,  Perang Iran vs Amerika -Israel dan Jejak Oligarkhi Global

Ini bukan soal boleh atau tidak boleh.

Ini soal etika komunikasi publik.

Akun pemerintah bukan akun pribadi. Ia membawa nama institusi dan menjadi salah satu wajah pemerintah di hadapan masyarakat.

Bayangkan warga membuka media sosial untuk mencari informasi tentang titik api, kualitas udara, layanan kesehatan, sekolah, evakuasi atau perkembangan pemadaman.

Yang muncul justru:

“Selamat ulang tahun, Bu…”

Di sinilah persoalannya terasa getir.

Bukan karena ucapan itu salah. Tetapi karena prioritasnya terlihat tidak pada tempatnya.

Kita tentu tidak boleh menuduh kepala dinas dan jajaran Pemprov Kalteng tidak memiliki empati. Bisa saja unggahan tersebut merupakan bentuk penghormatan atau kebiasaan komunikasi internal.

Namun pejabat publik dituntut memiliki kepekaan membaca suasana masyarakat.

Dalam komunikasi pemerintahan, timing itu penting.

Pesan yang sebenarnya baik bisa terasa tidak tepat ketika disampaikan pada waktu yang salah.

Seperti orang sedang datang melayat, lalu membuka kotak kue sambil berkata, “Silakan, kuenya enak.”

Kuenya mungkin memang enak.

Tapi ya… bukan waktunya.

Begitu pula ucapan ulang tahun.

Baca Juga :  11 atau 23 Rakaat: Surga Tidak Menghitung dengan Kalkulator

Ketika Kalimantan sedang menghadapi karhutla, seharusnya kanal resmi pemerintah lebih banyak berbicara tentang api, asap, kesehatan, keselamatan, pemadaman dan solusi.

Bukan malah membuat publik bertanya:

“Kok pemerintah seperti lebih cepat mengucapkan selamat ulang tahun daripada memberi kabar tentang keselamatan warga?”

Ini seharusnya menjadi bahan evaluasi.

Pemerintah tidak hanya dituntut bekerja, tetapi juga merasakan suasana batin masyarakat.

Rakyat tidak hanya melihat apa yang dikerjakan pemerintah di lapangan. Mereka juga melihat apa yang pemerintah tampilkan di media sosial.

Dan di era digital, satu unggahan bisa menjadi cermin sebuah institusi.

Presiden sedang bicara darurat.

Petugas sedang bicara api.

Masyarakat sedang bicara asap.

Lalu sebagian kanal pemerintah bicara ulang tahun.

Bukan salah ucapannya.

Tetapi soal rasa dan suasana.

Kalimantan membutuhkan pemerintah yang hadir bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional.

Karena dalam bencana, empati tidak selalu harus berupa pidato panjang. Kadang cukup dengan menunjukkan bahwa pemerintah tahu apa yang sedang dirasakan rakyatnya.

Kalau rakyat sedang sesak karena asap, jangan sampai pemerintah terlihat sibuk meniup lilin.

Kita tidak mempermasalahkan lilinnya. Kita hanya berharap pemerintah tahu kapan harus meniup lilin dan kapan harus memadamkan api.***

 

Penulis : Wiedmust

Editor : Suluh NTB Editor

Berita Terkait

Prabowo, Blunder, atau Strategi Pemetaan Barisan?
“Sejarah Bukan Kutukan: Dekonstruksi Mitos Guru Dane dalam Membaca Korupsi Lombok Barat”
Keributan Itu Tidak Lahir dalam Semalam
Powerless Society dan Pragmatisme Politik dalam Pemilihan Kepala Desa
NARASI : Partai Politik dan Negara, Ketika Demokrasi Kehilangan Arah
Iqbal-Dinda: Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem di NTB
NARASI: Bangkitnya Kelas Menengah, Kurva Gajah
Politik NTB Masuk Fase Regenerasi, Pilkada 2029 Bakal Jadi Arena Perburuan Pemimpin Baru

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 12:42 WIB

Kalimantan Berasap, Pemerintah Sibuk Tiup Lilin?

Selasa, 18 Agustus 2026 - 09:11 WIB

Prabowo, Blunder, atau Strategi Pemetaan Barisan?

Kamis, 30 Juli 2026 - 12:25 WIB

“Sejarah Bukan Kutukan: Dekonstruksi Mitos Guru Dane dalam Membaca Korupsi Lombok Barat”

Rabu, 29 Juli 2026 - 23:27 WIB

Keributan Itu Tidak Lahir dalam Semalam

Kamis, 23 Juli 2026 - 16:48 WIB

Powerless Society dan Pragmatisme Politik dalam Pemilihan Kepala Desa

Berita Terbaru

NARASI

Kalimantan Berasap, Pemerintah Sibuk Tiup Lilin?

Senin, 24 Agu 2026 - 12:42 WIB

INFORIAL

Pengumuman Rencana Kegiatan PT Bintang Perdana Gemilang

Rabu, 19 Agu 2026 - 20:30 WIB

NARASI

Prabowo, Blunder, atau Strategi Pemetaan Barisan?

Selasa, 18 Agu 2026 - 09:11 WIB