SULUHNTB.COM — Upaya menjadikan Desa Kawo, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, sebagai desa yang semakin mandiri dan berdaya mendapat penguatan melalui sinergi perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat.
Hal tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Program Profesor Berdampak Universitas Mataram (Unram) yang berlangsung di Aula Kantor Desa Kawo, Selasa, 11 Agustus 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
FGD mengangkat tema “Pemetaan Potensi, Permasalahan dan Strategi Pengembangan Desa Kawo melalui Sinergi Program Profesor Berdampak Universitas Mataram dan Program Desa Berdaya Provinsi NTB.”
Kegiatan ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari LPPM Unram, Tim Profesor Berdampak, Pemerintah Provinsi NTB melalui Bappeda, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah melalui Baperida dan OPD terkait, Pemerintah Desa Kawo, BPD, BUMDes, kepala dusun, kelompok tani dan peternak, PPL, pelaku UMKM, tokoh masyarakat, DPRD, Dinas Sosial, Tim Penanggulangan Kemiskinan Lombok Tengah, hingga akademisi dan putra daerah Kawo.
FGD tersebut menjadi titik awal untuk menyinergikan program pembangunan yang telah dirancang oleh berbagai pihak sekaligus merumuskan bentuk pendampingan akademik yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat Desa Kawo.
Dari Program ke Aksi Nyata
Kepala Desa Kawo dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran Program Profesor Berdampak Universitas Mataram. Ia mengajak seluruh masyarakat dan peserta FGD untuk menyampaikan harapan serta kebutuhan yang dihadapi desa agar program yang dikembangkan benar-benar dapat dilaksanakan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, LPPM Universitas Mataram, yang diwakili Prof Syahrul, PhD, menegaskan bahwa FGD bukan sekadar forum pertemuan, tetapi menjadi titik awal pendampingan yang diharapkan memberikan dampak langsung bagi Desa Kawo.
Pendampingan melalui Program Profesor Berdampak akan memanfaatkan berbagai bidang keahlian yang dimiliki para profesor dan akademisi Unram. Perguruan tinggi tidak semata-mata membawa program atau anggaran, tetapi terutama membawa pengetahuan, keahlian, pendampingan, dan jejaring untuk membantu masyarakat dan pemerintah desa mengembangkan program yang berkelanjutan.
Kabid Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Provinsi NTB, Heri Agustiadi, memaparkan arah pembangunan Provinsi NTB serta Program Desa Berdaya. Dalam konteks pembangunan desa, tiga prioritas besar yang ditekankan adalah pengentasan kemiskinan, penguatan ketahanan pangan dan industrialisasi agroindustri, serta menjadikan NTB mendunia.
Program Desa Berdaya menjadi salah satu instrumen untuk mendorong pencapaian sasaran tersebut. Salah satu fokusnya adalah pengentasan kemiskinan melalui peningkatan pendapatan masyarakat, penyediaan layanan dasar, pendekatan GEDSI, dan perlindungan sosial adaptif.
Dari Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, Sekretaris Baperida memaparkan arah pembangunan daerah melalui agenda MASMIRAH — Mewujudkan Masyarakat Lombok Tengah Mandiri, Sejahtera dan Harmonis. Arah pembangunan tersebut mencakup peningkatan kualitas sumber daya manusia, pelayanan publik, pengembangan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan, konektivitas antarwilayah, serta integrasi budaya luhur dalam kehidupan masyarakat
Baperida juga menegaskan pentingnya sinkronisasi program agar berbagai intervensi pemerintah tidak berjalan sendiri-sendiri. “Program Desa Berdaya diharapkan dapat ikut mengentaskan kemiskinan,” menjadi salah satu pesan penting dalam pembahasan tersebut.
Prof Aluh Nikmatullah, Ketua Tim Profesor Berdampak, menjelaskan bahwa sebelumnya telah dilakukan sejumlah audiensi dengan Pemerintah Desa Kawo, Baperida, dan sejumlah institusi terkait. Program tersebut diarahkan untuk menyinergikan Program Desa Berdaya dengan pendampingan akademik Universitas Mataram.“Tim Profesor Berdampak tidak membawa anggaran, tetapi membawa pendampingan,” menjadi penekanan penting Prof Aluh.
Pasar Menjadi Kunci
Akademisi dan putra daerah Kawo, Prof. Sukartono, menekankan pentingnya membangun rantai nilai dan kesinambungan pasar.
Menurutnya, potensi Desa Kawo dapat dikembangkan melalui pendekatan ketahanan pangan dan pariwisata. Ia mencontohkan sejumlah komoditas seperti ayam kampung, kangkung, dan nanas yang dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan sektor hotel, restoran, dan kafe.
Persoalannya bukan sekadar bagaimana meningkatkan produksi, tetapi bagaimana produk masyarakat dapat memenuhi standar kualitas, keamanan pangan, kuantitas, dan kontinuitas yang dibutuhkan pasar.
“Percuma produksi meningkat jika tidak ada kesinambungan pasar,” menjadi salah satu gagasan penting dalam diskusi.
Karena itu, pengembangan ekonomi Desa Kawo perlu membangun ekosistem bisnis dan rantai nilai, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan mulai dari petani dan peternak hingga konsumen akhir. Komoditas pertanian juga dapat menjadi bagian dari penguatan sektor pariwisata melalui pengembangan wisata berbasis pertanian atau agrowisata.
Potensi Kawo Tidak Hanya Pertanian
Diskusi yang difasilitasi Agus Purbathin Hadi berkembang pada pemetaan potensi dan masalah di berbagai dusun.
Peserta mengidentifikasi bahwa Desa Kawo memiliki sejumlah modal penting, antara lain tingkat pendidikan masyarakat yang relatif baik, pengetahuan pertanian, usaha masyarakat yang berkembang, serta semangat dan motivasi untuk maju.
Di sektor pertanian, Kawo memiliki potensi palawija, padi, melon, kacang koro, labu, dan berbagai tanaman lain. Peserta juga melihat peluang pemanfaatan pematang lahan untuk tanaman pangan dan peluang pengembangan pertanian yang terintegrasi dengan pariwisata.
Di bidang peternakan, terdapat potensi ayam kampung, ayam pedaging, ayam petelur, kambing, dan bebek. Limbah peternakan juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.
Sektor UMKM juga memiliki potensi melalui produk seperti kerupuk, keripik, dan opak. Namun, pelaku UMKM masih membutuhkan pendampingan agar dapat meningkatkan skala usaha dan memperluas pasar.
Pelaku UMKM menyampaikan bahwa pemasaran saat ini relatif tidak menjadi persoalan pada skala lokal, tetapi penjualan masih terbatas. Karena itu, diperlukan bimbingan dan pendampingan agar UMKM dapat naik kelas.
Potensi lain yang muncul adalah pengembangan agrowisata. Pengalaman masa lalu ketika pertanian Kawo berkembang dengan berbagai sayuran dan pemasaran ke luar daerah menjadi inspirasi untuk mengembangkan kembali pertanian sebagai basis ekonomi sekaligus daya tarik wisata.

Kader Posyandu dan Pemberdayaan Masyarakat
FGD juga memberi perhatian terhadap keberlanjutan penanganan stunting.
Perwakilan kader posyandu menyampaikan bahwa Desa Kawo pernah menjadi lokus stunting pada 2024 dan telah melakukan berbagai upaya penanganan. Menurutnya, kader posyandu merupakan salah satu kekuatan desa yang perlu terus diperkuat.
Selain peningkatan kapasitas di bidang kesehatan, kader juga membutuhkan peluang pengembangan usaha sehingga aktivitas pemberdayaan dapat berjalan lebih berkelanjutan.
Persoalan pembiayaan menjadi tantangan tersendiri karena berkurangnya dana desa membuat ruang intervensi semakin terbatas. Karena itu, diperlukan kreativitas dalam mengembangkan program yang memadukan kesehatan, pemberdayaan, pangan, dan ekonomi masyarakat.
Dari Bantuan Menuju Kemandirian
Dari keseluruhan diskusi, muncul sejumlah persoalan yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangan Desa Kawo, antara lain pakan dan kesehatan ternak, pemasaran produk, digitalisasi usaha, penguatan kewirausahaan, ketepatan sasaran bantuan, pengairan pertanian, peningkatan kapasitas UMKM dan penenun, serta kebutuhan pembinaan yang kontinu.

Fasilitator menekankan pentingnya mengubah pendekatan dari bantuan yang bersifat sepotong-sepotong menuju pendampingan yang berkelanjutan dan bertahap.
Masyarakat juga didorong untuk belajar dari skala kecil. Bantuan kepada sejumlah keluarga dengan jumlah ternak yang terbatas dapat menjadi tahap awal pembelajaran sebelum dikembangkan menjadi model usaha yang lebih besar.
Dalam konteks tersebut, Program Profesor Berdampak diharapkan dapat memberikan pendampingan berbasis keahlian untuk membantu masyarakat menemukan solusi yang sesuai dengan kondisi lokal.
Sinergi Lintas Pihak Jadi Kunci
FGD akhirnya mengarah pada kebutuhan untuk menyusun program yang melibatkan berbagai pihak sesuai dengan kewenangannya.
Prof Farid Hemon, anggota Tim Tim Profesor Berdampak, mengungkapkan bahwa Universitas Mataram berperan dalam pendampingan akademik, teknologi, inovasi, peningkatan kapasitas, dan riset terapan.
Pemerintah provinsi dan kabupaten berperan dalam sinkronisasi kebijakan, dukungan teknis, fasilitasi program, dan penguatan akses terhadap perangkat daerah.
Pemerintah Desa, BUMDes, kelompok masyarakat, petani, peternak, UMKM, kader posyandu, dan kelompok lainnya menjadi aktor utama dalam pelaksanaan di tingkat lokal.
Dengan model tersebut, Program Profesor Berdampak diharapkan tidak menjadi program yang berdiri sendiri, tetapi menjadi pengungkit dan penghubung berbagai program yang telah tersedia.
Selaras dengan SDGs
Substansi FGD Desa Kawo memiliki keterkaitan langsung dengan sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs).
Pertama, SDG 1: Tanpa Kemiskinan, karena salah satu fokus utama Program Desa Berdaya adalah pengurangan kemiskinan melalui peningkatan pendapatan dan pemberdayaan keluarga miskin.
Kedua, SDG 2: Tanpa Kelaparan, melalui penguatan ketahanan pangan, pertanian, peternakan, pemanfaatan pekarangan, serta peningkatan konsumsi pangan bergizi.
Ketiga, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, melalui pengembangan UMKM, peternakan, pertanian, kewirausahaan, dan penciptaan usaha produktif masyarakat.
Keempat, SDG 9: Industri, Inovasi dan Infrastruktur, melalui penerapan inovasi, teknologi, digitalisasi, riset terapan, dan pendampingan akademik.
Kelima, SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan, terutama melalui perhatian terhadap keluarga miskin, kelompok rentan, perempuan, dan masyarakat yang membutuhkan akses terhadap program pemberdayaan.
Keenam, SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, yang menjadi roh utama FGD melalui kolaborasi Universitas Mataram, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemerintah desa, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan.
Arah tersebut sejalan dengan TOR Program Profesor Berdampak yang menempatkan kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah desa, pemerintah daerah, BUMDes, dan kelompok masyarakat sebagai fondasi pengembangan Desa Kawo.
Kawo Menuju Desa Pusat Belajar
FGD ditutup Prof Baiq Rien Handayani dengan kesepakatan untuk menindaklanjuti hasil pemetaan dan pembahasan melalui program yang lebih terarah sesuai kebutuhan masyarakat.
Bagi Desa Kawo, forum ini bukan sekadar membicarakan bantuan, tetapi menjadi momentum untuk membangun model pembangunan desa berbasis potensi lokal, pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi.
Fasilitator FGD, Agus Purbathin Hadi, mengingatkan bahwa Kawo memiliki sejarah dan semangat pembangunan yang kuat. Karena itu, selain menjadi desa yang maju secara ekonomi, Kawo diharapkan dapat berkembang sebagai desa pusat belajar, tempat masyarakat belajar mengembangkan potensi pertanian, peternakan, UMKM, kewirausahaan, dan inovasi secara berkelanjutan.
Program Profesor Berdampak Universitas Mataram bersama Program Desa Berdaya Provinsi NTB dan program pembangunan Kabupaten Lombok Tengah diharapkan menjadi momentum untuk mewujudkan gagasan tersebut.
Dari pemetaan potensi, bergerak menuju pemecahan masalah; dari bantuan, menuju kemandirian; dan dari program yang berjalan sendiri-sendiri, menuju kolaborasi yang menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat Desa Kawo. ***
Penulis : SN-05
Editor : SuluhNTB Editor










































