NARASI: Ketika Humor Kehabisan Argumen

Catatan Tangan Kanan Wiedmust

Senin, 5 Januari 2026 - 18:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kontroversi materi Mens Rea karya Pandji Pragiwaksono membuka satu soal mendasar yang kerap luput dibahas: bukan apakah komedi boleh mengkritik kekuasaan, melainkan seberapa malas kritik itu disusun.

Lelucon tentang mata Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang disebut “mengantuk” mungkin terdengar sepele di panggung, tetapi problematik ketika ditarik ke ruang publik yang lebih luas.

dr. Tompi mengoreksi bukan dari sudut moral semata, melainkan dari ranah ilmu. Ia menegaskan bahwa apa yang disebut “mata mengantuk” secara medis dikenal sebagai ptosis, kondisi anatomis yang bisa bawaan, fungsional, atau medis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fakta ini penting karena membongkar satu kelemahan mendasar: lelucon itu tidak menyerang kekuasaan, tidak menguliti kebijakan, dan tidak membongkar relasi kuasa ia hanya menyentil tubuh.

Di sinilah kritik menjadi relevan. Satire politik secara historis lahir untuk menampar ide, bukan menertawakan kondisi biologis.

Ketika humor turun kelas menjadi ejekan fisik, ia kehilangan fungsi kritisnya dan berubah menjadi sekadar hiburan instan. Lucu, mungkin. Tajam, tidak.

Baca Juga :  Hultah NWDI: Pencerahan, Peradaban, Kebangsaan

Pembelaan klasik bahwa “ini kan cuma komedi” justru problematik. Komedi bukan ruang hampa nilai. Ia membentuk persepsi, membangun normalisasi, dan dalam konteks politik, ikut mempengaruhi cara publik menilai pemimpin.
Menertawakan fisik sesuatu yang tidak bisa dipilih adalah kritik termurah dalam katalog kritik kekuasaan.

Keprihatinan Ina Liem menambah dimensi lain: tanggung jawab kultural. Sebagai pendidik, ia melihat materi seperti ini bukan sekadar soal selera humor, melainkan soal teladan berpikir.

Ketika komedi politik lebih sibuk mengulik tubuh ketimbang kebijakan, publik diajak tertawa tanpa diajak berpikir. Ini berbahaya dalam iklim demokrasi yang sudah rentan terhadap simplifikasi dan polarisasi.

Perlu ditegaskan: kritik terhadap materi ini bukan berarti membela Gibran sebagai pejabat. Justru sebaliknya, Gibran memiliki banyak ruang kritik yang sah rekam kebijakan, etika kekuasaan, proses politik yang mengantarkannya ke jabatan, hingga implikasi demokratisnya.
Mengabaikan semua itu dan memilih fisik sebagai bahan lelucon adalah pemborosan peluang kritik.

Baca Juga :  Skandal“PROFESOR KEMASAN”: Saat Ilmu Pengetahuan Disajikan dengan Harga Eceran 1,5 Miliar

Sikap Pandji yang menerima masukan patut diapresiasi. Itu menunjukkan ruang dialog masih terbuka. Namun penerimaan saja tidak cukup jika tidak diikuti refleksi.

Komedi politik yang matang seharusnya naik kelas: dari mengejek tampilan menuju membedah struktur, dari punchline instan menuju kritik yang menggigit.
Pada akhirnya, polemik ini bukan soal selera humor, melainkan standar nalar publik.

Demokrasi tidak anti-tawa, tetapi ia alergi pada kritik yang malas. Ketika fisik dijadikan senjata, itu tanda argumen kehabisan peluru. Dan saat kritik berhenti di tubuh, kekuasaan justru lolos tanpa disentuh.

Di titik inilah diskusi Tompi, Ina Liem, dan respons Pandji menjadi relevan: humor boleh bebas, tetapi martabat manusia tidak semestinya menjadi punchline. Kritik yang kuat lahir dari ide, bukan dari kelopak mata. ***

Penulis : Weid Must

Editor : Suluh NTB Editor

Berita Terkait

NARASI: Terorisme Negara Modern,  Perang Iran vs Amerika -Israel dan Jejak Oligarkhi Global
NTB dalam Cermin Buram Kekerasan Seksual: Ketika Lembaga Pendidikan, Tradisi Lokal, dan Kebijakan Pemerintah Gagal Melindungi Perempuan dan Anak
11 atau 23 Rakaat: Surga Tidak Menghitung dengan Kalkulator
NARASI: Wakil Wali Kota Surabaya Diusulkan Dicopot, Di Persimpangan Etika Pejabat, Akurasi Informasi, dan Sensitivitas Sosial
NARASI: Transparansi Seleksi KPID Kalbar dan Hak Publik untuk Tahu
NARASI: Menjemput UNRAM Unggul Global, Visi Progresif Prof Muhamad Ali Menuju Indonesia Emas 2045
Skandal“PROFESOR KEMASAN”: Saat Ilmu Pengetahuan Disajikan dengan Harga Eceran 1,5 Miliar
Terimakasih Prof Ali

Berita Terkait

Senin, 6 April 2026 - 15:44 WIB

NARASI: Terorisme Negara Modern,  Perang Iran vs Amerika -Israel dan Jejak Oligarkhi Global

Jumat, 27 Februari 2026 - 13:15 WIB

11 atau 23 Rakaat: Surga Tidak Menghitung dengan Kalkulator

Selasa, 6 Januari 2026 - 22:53 WIB

NARASI: Wakil Wali Kota Surabaya Diusulkan Dicopot, Di Persimpangan Etika Pejabat, Akurasi Informasi, dan Sensitivitas Sosial

Senin, 5 Januari 2026 - 18:51 WIB

NARASI: Ketika Humor Kehabisan Argumen

Selasa, 30 Desember 2025 - 10:18 WIB

NARASI: Transparansi Seleksi KPID Kalbar dan Hak Publik untuk Tahu

Berita Terbaru

Kemiskinan Lombok Timur turun ke 13,53 persen. Akademisi nilai kebijakan pemerintah efektif tekan kesenjangan dan beban warga miskin.

LINTAS DAERAH

Kemiskinan Lombok Timur Turun Signifikan

Jumat, 3 Apr 2026 - 03:30 WIB