NARASI: Pemerintah Perlu Memikirkan Jutaan Orang Kota Yang Tinggal Di Kontrakan Sempit

Sabtu, 7 Juni 2025 - 15:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis:  Salamuddin Daeng (Pengamat Ekonomi Nasional asal NTB)

Saat nongkrong di sebuah restoran di Jakarta, sempat bincang bincang dengan karyawan restoran tersebut. Karena sudah agak larut malam iseng bertanya, mbak tinggal dimana? Di Cikini katanya, wah hebat kata saya, tinggal di Cikini tentu orang punya uang, harga rumah dan tanah pasti mahal.

Sementara kami cuma bisa tinggal di Depok, jauh dari Jakarta, punggung hampir bengkok melengkung karena kelamaan nyetir, tapi harga rumah atau tempat tinggal terjangkau.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lalu Mbak karyawan restoran itu bilang, kami ngekost pak, tiga orang sekamar, supaya bisa bayar sewa 2,5 juta per bulan. Emang kamarnya ukuran berapa? tanya saya. Ukuran 2,5×3 meter katanya. Tapi kalian satu kamar perempuan semua kan? Sambil kami semua ketawa.

Di Jakarta masih banyak orang orang yang tinggal di kontrakan sempit, ukurannya cuma 2×3 meter, yang tinggal 3-4 bahkan 5 orang. Bukan hanya kamar yang sempit, tapi juga lokasinya di gang sempit. kumuh, jauh dari layak huni. Kelompok inilah yang seharusnya ditolong dengan segera oleh pemerintah.

Belakangan ini muncul polemik tentang rencana pemberian subsidi rumah ukuran kecil yakni antara 28-30 meter kepada masyarajat terutama di kota kota besar. Ukuran rumah subsidi yang kecil ini dianggap tidak manusiawi, ukuran kandang manuk katanya alias ukuran kandang ayam.

Baca Juga :  NARASI: Transparansi Seleksi KPID Kalbar dan Hak Publik untuk Tahu

Tapi kalau rumah 25 meteran atau 30 meteran itu adanya di samping Sarinah atau di daerah Cikini, saya rasa banyak yang mau membeli dengan harga 160 juta rupiah. Mengingat harga tanah di daerah tersebut per meternya mungkin sudah puluhan juta atau ratusan juta rupiah.

Dengan uang 160 juta rupiah tidak mungkin bisa membeli tanah ukuran 10 meter di daerah tersebut. Bahkan untuk seluruh wilayah ibukota Jakarta dengan uang 160 juta rupiah atau harga rumah subsidi tidak mungkin bisa membeli tanah 10 meteran apalagi beserta rumah itu adalah mustahil.

Jadi bagaimana caranya pemerintah membangun rumah subsidi di Jakarta? Membangun rumah agar masyarakat tertarik membeli dan memiliki rumah di Jakarta.

Rumah itu harus murah dan terjangkau oleh kantong para pekerja atau terjangkau dompet para penghuni rumah kontrakan. Saya rasa pemerintah tidak akan punya jalan keluar, walaupun sudah pusing tujuh keliling.

Ada usulan bangun apartemen atau rumah susun saja. Supaya bisa menampung banyak orang di atas lahan kecil dan sempit. Idealnya demikian. Bangun apartemen dan rumah susun. Apa benar demikian? Ternyata solusi itu tidak diminati! Apa buktinya?

Orang Jakarta baik pekerja maupun pengangguran tidak tertarik tinggal di apartemen atau rumah susun. Buktinya saat ini 75% rumah susun dan apartemen di Jakarta tidak berpenghuni alias kosong.

Orang orang takut tinggal di apartemen bukan hanya karena tidak punya uang, tapi takut ketinggian, takut kebakaran, takut gempa. Jadi tinggal di apartemen masih dianggap sebagai tindakan bunuh diri atau masuk dalam peti mati.

Baca Juga :  Homo Lombokensis: Arah Baru Lombok

Jadi usulan rumah tapak dengan luas tanah yang lebih kecil di kota kota besar akan lebih rasional dan lebih disukai ketimbang usulan rumah susun atau apartemen yang telah terbukti gagal.

Rumah tapak seukuran kamar kos asal harganya murah, kreditnya disubsidi oleh pemerintah, uang muka kecil atau tanpa uang muka, kredit di bawah satu juta rupiah sebulan, pasti akan laris seperti kacang goreng.

Coba saja bangun rumah ukuran 20 meter dengan dua lantai atau tiga lantai di daerah daerah yang tidak terlalu jauh dengan pusat kota, saya yakin akan lebih dipilih, dibeli, dibandingkan dengan jualan apartemen atau rumah susun. Sebab kalau kebakaran atau gempa, masih ada peluang selamat!

Atau kasih sulusi lain yakni memprogramkan kembali transmigrasi. Jadi yang tidak mau tinggal di rumah kecil, atau lahan kecil, bisa melamar menjadi transmigran.

Sudah pasti dapat rumah yang besar dengan ukuran tanah dan pekarangan lebih dari 200 an meter, dan bisa dapat lahan sawah minimal 1000 meter. Itu solusi yang lebih ampuh untuk merealisasikan proyek tiga juta rumah. Bikin lagi deh Kementerian Transimigrasi. Ok Gas! ***

Berita Terkait

Rupiah Lemah, Indonesia Bisa Maju?
Bangkitlah Indonesia, atau Sekadar Ramai di Media Sosial?
Empat  Langkah Tepat Menjawab Kritik The Economist pada Prabowo
Menyoal Polemik Swasembada Pangan Di Era Presiden Prabowo
NARASI: Terorisme Negara Modern,  Perang Iran vs Amerika -Israel dan Jejak Oligarkhi Global
NTB dalam Cermin Buram Kekerasan Seksual: Ketika Lembaga Pendidikan, Tradisi Lokal, dan Kebijakan Pemerintah Gagal Melindungi Perempuan dan Anak
11 atau 23 Rakaat: Surga Tidak Menghitung dengan Kalkulator
NARASI: Wakil Wali Kota Surabaya Diusulkan Dicopot, Di Persimpangan Etika Pejabat, Akurasi Informasi, dan Sensitivitas Sosial

Berita Terkait

Kamis, 21 Mei 2026 - 09:57 WIB

Rupiah Lemah, Indonesia Bisa Maju?

Rabu, 20 Mei 2026 - 10:54 WIB

Bangkitlah Indonesia, atau Sekadar Ramai di Media Sosial?

Senin, 18 Mei 2026 - 09:27 WIB

Empat  Langkah Tepat Menjawab Kritik The Economist pada Prabowo

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:31 WIB

Menyoal Polemik Swasembada Pangan Di Era Presiden Prabowo

Senin, 6 April 2026 - 15:44 WIB

NARASI: Terorisme Negara Modern,  Perang Iran vs Amerika -Israel dan Jejak Oligarkhi Global

Berita Terbaru

NARASI

Rupiah Lemah, Indonesia Bisa Maju?

Kamis, 21 Mei 2026 - 09:57 WIB

NARASI

Bangkitlah Indonesia, atau Sekadar Ramai di Media Sosial?

Rabu, 20 Mei 2026 - 10:54 WIB