Di sebuah studio TV yang lampunya terang seperti sidang isbat Lebaran, Prof. Ichsanuddin Noorsy menjatuhkan kalimat yang membuat warga akademia mendadak tersedak kopi:
“Gelar profesor bisa dibeli. Harganya 1,5 sampai 2 miliar.”
Aiman Wicaksono yang memandu acara tampak setenang thermostat AC padahal satu Indonesia langsung panas dingin.
Di negara di mana gelar akademik sering lebih laku dari karya ilmiah, ucapan itu jatuh seperti petasan dini hari: kaget, berisik, dan bikin banyak orang pura-pura tidur.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Prof. Stella Christie, Ph.D yang hadir pun hanya tersenyum tipis senyum khas pejabat yang sedang menghitung sejauh mana ucapan orang lain bisa menjadi masalah untuk lembaga mereka.
Tentu, pernyataan itu belum dibuktikan dengan bukti transfer, kuitansi, apalagi invoice resmi bertuliskan “Paket Guru Besar – Bonus Toga & Seminar Internasional”.
Tapi publik sudah kadung ribut.
Katanya pendidikan itu pilar bangsa, tapi kok kesannya seperti pilar rumah kontrakan: bisa digoyang asal bayarannya pas.
Di dunia ideal, profesor lahir dari riset bertahun-tahun, publikasi berdarah-darah, jurnal bereputasi, dan revisi yang tak jarang lebih sadis dari utang rentenir.
Tapi di dunia nyata versi yang sedang kita tonton muncul kesan bahwa jalan pintas selalu lebih ramai peminat daripada jalur ilmiah.
Ibarat pepatah satir terbaru minggu ini:
“Ilmu yang tak sampai, kadang dilewati dengan jalur tol bernama saldo rekening.”
Yang lucu,sedih,miris:
Rakyat diminta menghargai akademisi.
Mahasiswa diminta bersusah payah menulis skripsi tanpa plagiasi.
Dosen diminta menerbitkan jurnal internasional yang bahkan dibaca saja sakit kepala.
Tapi tiba-tiba muncul rumor bahwa ada orang bisa loncat langsung ke kursi profesor hanya dengan membuka mobile banking.
Kalau benar, dunia pendidikan kita bukan lagi “menara gading”.
Tapi menara ATM.
Namun kita tetap harus adil:
Klaim itu baru pernyataan, belum pembuktian.
Bahkan koruptor saja butuh barang bukti, rekaman suara, dan saksi ahli masa profesor bodong tidak?
Maka, ada dua kemungkinan:
1. Pernyataannya benar → maka sistem akademik kita sedang bocor seperti pipa PDAM yang tak kunjung diperbaiki.
2. Pernyataannya salah atau dilebih-lebihkan → maka bangsa ini resmi punya bakat alam dalam menciptakan drama pendidikan yang mengalahkan sinetron prime time.
Yang jelas, publik punya satu tuntutan sederhana:
Jika gelar profesor bisa dibeli, tunjukkan siapa kasirnya.
Kalau tidak bisa, ya perbaiki sistemnya bukan cukup dengan klarifikasi standar “itu hanya persepsi”.
Di akhir hari, gelar akademik seharusnya bukan benda koleksi.
Ilmu pengetahuan tidak boleh punya label harga.
Dan profesor, mestinya bukan jabatan yang digeser dari ruang seminar ke etalase toko.
Karena kalau segala hal bisa dibeli, maka bangsa ini tinggal menunggu satu hal terakhir yang ikut dijual:
kepercayaan publik. ***
Penulis : Wiedmust
Editor : SuluhNTB Editor






























