Home / NTB

Alih Fungsi Lahan Di NTB Tak Terkendali, Politisi PDIP Desak Pemerintah Segera Stop Izin

Kamis, 16 April 2026 - 17:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SULUHNTB.COM – Ketua DPD PDI Perjuangan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang juga Anggota Komisi 1 DPR RI , H Rachmat Hidayat memberikan peringatan keras mengenai kondisi ketahanan pangan dan degradasi kualitas lahan di wilayah NTB.

Rachmat menyoroti hilangnya peran dinas pertanian dan pola tanam yang tidak terkendali sebagai ancaman serius bagi masa depan pangan daerah.

Rachmat mengungkapkan kegelisahannya setelah menerima instruksi langsung dari Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarno Putri, terkait ancaman krisis pangan nasional. Menurutnya, kondisi di lapangan menunjukkan tanda-tanda kerusakan ekosistem yang nyata akibat eksploitasi lahan tanpa jeda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Tanah kita sekarang sudah lelah. Pola tanam padi-padi-padi tanpa rotasi membuat tanah kehilangan kemampuan memulihkan diri. Dulu kita mengenal palawija untuk memberi jeda, sekarang semua berubah karena desakan ekonomi,” ujar Rachmat saat memberikan refleksi lapangan di Mataram, Kamis (16/4/2026).

Matinya Fungsi Penyuluhan

Salah satu poin krusial yang disoroti Rachmat adalah hilangnya kehadiran negara di tingkat pematang sawah. Ia menyebutkan banyak Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di daerah yang kini terbengkalai.

Baca Juga :  FPTI NTB, Laskar Sasak, Pojok NTB dan BEM UNW Mataram Kembali Salurkan Bantuan Kepada Korban Terdampak Banjir di Mataram

“Datanglah ke Kotaraja di Lombok Timur atau ke Narmada di Lombok Barat. Banyak balai penyuluhan yang rusak dan fungsinya hilang. Penyuluh ada di atas kertas, tapi tidak hadir di tengah sawah untuk membimbing petani,” tegasnya.

Kondisi ini, menurut Rachmat, menyebabkan petani berjalan sendiri tanpa arah dan hanya mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan jangka pendek. Ia juga mengkritik kebijakan instan yang melibatkan sektor non-pertanian seperti aparat keamanan untuk mengurus komoditas tertentu, yang dinilainya bukan solusi jangka panjang bagi sistem pertanian yang berkelanjutan.

Kerusakan Alam di Pulau Sumbawa

Selain masalah penyuluhan, Rachmat mencontohkan dampak buruk pengelolaan lahan yang tidak terkendali di Pulau Sumbawa. Ia mencatat bahwa pembabatan hutan untuk penanaman jagung secara masif telah mengakibatkan bencana banjir tahunan.

“Para petani ulet kita dari Bima membuka lahan di Sumbawa, tapi karena tanpa pengaturan, kawasan hutan dibabat untuk jagung. Hasilnya? Banjir datang setiap tahun. Alam mulai menjawab,” katanya.

Baca Juga :  Banjir Parah di Mataram, Gubernur NTB Turun Langsung dan Kerahkan Basarnas hingga TNI AL

Desak Pemerintah Bertindak

Rachmat mendesak
pemerintah untuk segera kembali ke hal-hal mendasar (back to basic) guna mencegah krisis pangan yang lebih dalam. Ia menekankan empat poin utama yang harus segera dilakukan seperti, Menghidupkan kembali peran penyuluh pertanian sebagai ujung tombak pendampingan petani, Mengatur ulang pola tanam, melalui sistem rotasi dan diversifikasi pangan (seperti talas dan keladi), Melindungi lahan produktif dari alih fungsi lahan yang tidak terkendali di wilayah kabupaten, Mendorong regenerasi petani, dengan menjadikan sektor pertanian kembali menjanjikan bagi generasi muda.

“Persoalan pangan adalah persoalan kedaulatan. Kita tidak boleh terlena dengan kelimpahan semu di pasar hari ini. Jika fondasinya rapuh, suatu saat uang mungkin ada, tapi makanan tidak tersedia,” tutup Rachmat.***

Berita Terkait

Lepas Atribut Pejabat di Gawe Sosial Masbagik, Gubernur Iqbal: Saya Datang Sebagai Keluarga
Gubernur Pimpin Ratas hingga Malam: BTT Siap Percepat Penanganan Kerusakan Pascabencana
Gubernur NTB Perintahkan Penanganan Cepat Banjir di Lombok Barat dan Lombok Tengah
Saat Warga Miskin Ekstreme Desa Malaka Curhat Kepada Gubernur Iqbal
Pemprov NTB Gelar Tasyukuran Dinobatkannya Sultan Muhammad Salahuddin Sebagai Pahlawan Nasional
Lelang Jabatan Eselon 3 Pemprov NTB Diminati 416 Peserta, Kadis Kominfotik Beberkan Mekanisme Seleksi!
Kolaborasi Bali, NTB, dan NTT Siap Jadi Penggerak Ekonomi Baru Kawasan Timur Indonesia
Sumbawa Barat Jadi Daerah Paling Cepat Tekan Stunting di NTB. Ternyata ini Rahasianya!

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 17:31 WIB

Alih Fungsi Lahan Di NTB Tak Terkendali, Politisi PDIP Desak Pemerintah Segera Stop Izin

Minggu, 18 Januari 2026 - 12:45 WIB

Lepas Atribut Pejabat di Gawe Sosial Masbagik, Gubernur Iqbal: Saya Datang Sebagai Keluarga

Kamis, 15 Januari 2026 - 13:06 WIB

Gubernur Pimpin Ratas hingga Malam: BTT Siap Percepat Penanganan Kerusakan Pascabencana

Rabu, 14 Januari 2026 - 05:49 WIB

Gubernur NTB Perintahkan Penanganan Cepat Banjir di Lombok Barat dan Lombok Tengah

Kamis, 8 Januari 2026 - 11:37 WIB

Saat Warga Miskin Ekstreme Desa Malaka Curhat Kepada Gubernur Iqbal

Berita Terbaru

Kemiskinan Lombok Timur turun ke 13,53 persen. Akademisi nilai kebijakan pemerintah efektif tekan kesenjangan dan beban warga miskin.

LINTAS DAERAH

Kemiskinan Lombok Timur Turun Signifikan

Jumat, 3 Apr 2026 - 03:30 WIB