118 tahun lalu, anak-anak muda STOVIA diam-diam menyusun gagasan untuk melawan penjajahan.
Mereka tidak punya followers jutaan. Tidak punya centang biru. Tidak punya podcast politik. Tetapi mereka punya sesuatu yang hari ini mulai langka: keberanian berpikir untuk bangsa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Mereka membangun dalam sunyi. Sementara hari ini, banyak orang lebih sibuk membangun pencitraan daripada membangun negeri.
Dulu pemuda bergerak karena melihat rakyat tertindas.
Sekarang sebagian orang bergerak karena melihat engagement naik.
Ironisnya, kita hidup di zaman paling merdeka, tetapi sering terasa paling kehilangan arah. Nasionalisme perlahan berubah menjadi sekadar template ucapan setiap tanggal merah. Merah putih berkibar tinggi, tetapi kejujuran justru makin sulit dicari.
Kita marah jika bangsa dihina negara lain.
Tetapi diam saat bangsanya dihancurkan oleh korupsi, manipulasi, dan budaya asal bapak senang.
Kita bangga menyebut Indonesia kaya raya.
Tetapi pendidikan masih tertatih, petani sering kalah oleh tengkulak, dan anak muda dipaksa bertarung dengan masa depan yang makin mahal.
Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi alarm, bukan seremoni.
Karena penjajahan hari ini tidak selalu datang dengan bedil dan meriam. Kadang ia datang dalam bentuk kebodohan yang dipelihara, kritik yang dibungkam, masyarakat yang dibuat sibuk saling membenci, sementara segelintir elite nyaman menonton dari atas meja kekuasaan.
Yang lebih menyedihkan, kita mulai terbiasa.
Terbiasa melihat kebohongan.
Terbiasa melihat pejabat bicara tanpa rasa malu.
Terbiasa melihat rakyat kecil diminta sabar, sementara mereka yang berkuasa hidup semakin besar.
Padahal bangsa ini dulu dibangun oleh orang-orang yang tidak terbiasa tunduk.
Pertanyaannya sekarang sederhana:
Apakah bara kebangkitan itu masih ada?
Atau jangan-jangan kita sudah terlalu nyaman menjadi bangsa yang mudah lupa?
Sebab Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Indonesia hanya terlalu sering kehilangan orang yang benar-benar peduli.***
Penulis : Wiedmust
Editor : Suluh NTB Editor






























