Bangkitlah Indonesia, atau Sekadar Ramai di Media Sosial?

Catatan Tangan Kanan Wiedmust

Rabu, 20 Mei 2026 - 10:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

118 tahun lalu, anak-anak muda STOVIA diam-diam menyusun gagasan untuk melawan penjajahan.

Mereka tidak punya followers jutaan. Tidak punya centang biru. Tidak punya podcast politik. Tetapi mereka punya sesuatu yang hari ini mulai langka: keberanian berpikir untuk bangsa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka membangun dalam sunyi. Sementara hari ini, banyak orang lebih sibuk membangun pencitraan daripada membangun negeri.

Dulu pemuda bergerak karena melihat rakyat tertindas.
Sekarang sebagian orang bergerak karena melihat engagement naik.

Ironisnya, kita hidup di zaman paling merdeka, tetapi sering terasa paling kehilangan arah. Nasionalisme perlahan berubah menjadi sekadar template ucapan setiap tanggal merah. Merah putih berkibar tinggi, tetapi kejujuran justru makin sulit dicari.

Baca Juga :  NTB dalam Cermin Buram Kekerasan Seksual: Ketika Lembaga Pendidikan, Tradisi Lokal, dan Kebijakan Pemerintah Gagal Melindungi Perempuan dan Anak

Kita marah jika bangsa dihina negara lain.
Tetapi diam saat bangsanya dihancurkan oleh korupsi, manipulasi, dan budaya asal bapak senang.

Kita bangga menyebut Indonesia kaya raya.
Tetapi pendidikan masih tertatih, petani sering kalah oleh tengkulak, dan anak muda dipaksa bertarung dengan masa depan yang makin mahal.

Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi alarm, bukan seremoni.

Karena penjajahan hari ini tidak selalu datang dengan bedil dan meriam. Kadang ia datang dalam bentuk kebodohan yang dipelihara, kritik yang dibungkam, masyarakat yang dibuat sibuk saling membenci, sementara segelintir elite nyaman menonton dari atas meja kekuasaan.

Baca Juga :  Menyoal Polemik Swasembada Pangan Di Era Presiden Prabowo

Yang lebih menyedihkan, kita mulai terbiasa.

Terbiasa melihat kebohongan.
Terbiasa melihat pejabat bicara tanpa rasa malu.
Terbiasa melihat rakyat kecil diminta sabar, sementara mereka yang berkuasa hidup semakin besar.

Padahal bangsa ini dulu dibangun oleh orang-orang yang tidak terbiasa tunduk.

Pertanyaannya sekarang sederhana:

Apakah bara kebangkitan itu masih ada?
Atau jangan-jangan kita sudah terlalu nyaman menjadi bangsa yang mudah lupa?

Sebab Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Indonesia hanya terlalu sering kehilangan orang yang benar-benar peduli.***

 

 

Penulis : Wiedmust

Editor : Suluh NTB Editor

Berita Terkait

Empat  Langkah Tepat Menjawab Kritik The Economist pada Prabowo
Menyoal Polemik Swasembada Pangan Di Era Presiden Prabowo
NARASI: Terorisme Negara Modern,  Perang Iran vs Amerika -Israel dan Jejak Oligarkhi Global
NTB dalam Cermin Buram Kekerasan Seksual: Ketika Lembaga Pendidikan, Tradisi Lokal, dan Kebijakan Pemerintah Gagal Melindungi Perempuan dan Anak
11 atau 23 Rakaat: Surga Tidak Menghitung dengan Kalkulator
NARASI: Wakil Wali Kota Surabaya Diusulkan Dicopot, Di Persimpangan Etika Pejabat, Akurasi Informasi, dan Sensitivitas Sosial
NARASI: Ketika Humor Kehabisan Argumen
NARASI: Transparansi Seleksi KPID Kalbar dan Hak Publik untuk Tahu

Berita Terkait

Rabu, 20 Mei 2026 - 10:54 WIB

Bangkitlah Indonesia, atau Sekadar Ramai di Media Sosial?

Senin, 18 Mei 2026 - 09:27 WIB

Empat  Langkah Tepat Menjawab Kritik The Economist pada Prabowo

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:31 WIB

Menyoal Polemik Swasembada Pangan Di Era Presiden Prabowo

Senin, 6 April 2026 - 15:44 WIB

NARASI: Terorisme Negara Modern,  Perang Iran vs Amerika -Israel dan Jejak Oligarkhi Global

Senin, 2 Maret 2026 - 09:47 WIB

NTB dalam Cermin Buram Kekerasan Seksual: Ketika Lembaga Pendidikan, Tradisi Lokal, dan Kebijakan Pemerintah Gagal Melindungi Perempuan dan Anak

Berita Terbaru

NARASI

Bangkitlah Indonesia, atau Sekadar Ramai di Media Sosial?

Rabu, 20 Mei 2026 - 10:54 WIB