SULUHNTB.COM — Di tengah pesatnya pertumbuhan pengguna internet di Indonesia, upaya peningkatan literasi digital menjadi tantangan serius.
Hingga awal 2025, laporan We Are Social mencatat jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai 221 juta jiwa atau sekitar 79,5 persen dari total populasi. Namun, angka besar ini belum diimbangi dengan kemampuan literasi digital yang memadai.
Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menunjukkan bahwa indeks literasi digital masyarakat Indonesia masih berada pada level sedang, sedangkan laporan Microsoft dan TRG tahun 2021 menempatkan Indonesia di peringkat 29 dari 32 negara dalam indeks keadaban digital. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya gerakan literasi digital sebagai tanggung jawab bersama.
Melihat fenomena itu, Dr. Hj. Suhadah, M.Si, dosen Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) sekaligus mantan Komisioner KPID NTB periode 2008–2018, melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Literasi Digital pada Murid dan Wali Murid Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA) 5 Kota Mataram.”
Kegiatan ini digelar pada 13 September 2025 bersama dua mahasiswa pendamping, Desi Novianti dan Syahrul, dengan fokus utama memperkuat pemahaman digital anak-anak dan orang tua agar mampu menggunakan media secara sehat dan produktif.
Anak Usia Dini dan Tantangan Penggunaan Smartphone
Fenomena penggunaan gawai di kalangan anak-anak menjadi salah satu alasan utama kegiatan ini dilaksanakan. “Banyak murid TK ABA 5 yang kerap menggunakan smartphone milik orang tuanya tanpa pengawasan, bahkan sebagian mulai menunjukkan gejala kecanduan,”ungkap Dr Suhadah.
Para orang tua pun mengaku belum memiliki kemampuan memadai untuk mendampingi anak mereka dalam penggunaan media digital. Sebagian besar waktu online justru dihabiskan untuk aktivitas yang tidak produktif, baik oleh anak maupun orang tua sendiri.
“Tradisi digital yang kami lakukan selama ini ternyata lebih banyak untuk hiburan dan belum mendidik. Kegiatan ini membuka wawasan kami,” ujar salah satu wali murid, Novia Angraini, saat ditemui usai kegiatan.
Model Literasi Digital Berbasis Keluarga
Pengabdian masyarakat yang dilakukan Dr. Suhadah terbagi menjadi dua tahap, yaitu ceramah dan diskusi interaktif di sekolah, serta pendampingan langsung ke rumah-rumah peserta.
Materi yang disampaikan meliputi dua aspek penting. Pertama, pemanfaatan smartphone secara sehat dan produktif, termasuk cara mengoptimalkan fitur-fitur edukatif yang tersedia di perangkat. Kedua, keterampilan sosial dalam bermedia sosial, dengan penekanan pada etika digital, keamanan data, serta strategi orang tua dalam mengarahkan anak-anak saat menggunakan internet.
Hasil pengabdian menunjukkan respon positif dari para orang tua dan pihak sekolah. Mereka menilai pendekatan literasi yang menggabungkan antara transfer pengetahuan di kelas dan praktik langsung di rumah mampu memberikan dampak nyata terhadap perilaku digital anak.

Apresiasi dari Pihak Sekolah dan Wali Murid
Kepala TK ABA 5 Mataram, Dra. Hj. Sri Wahyuni, S.Pd, menyampaikan apresiasi tinggi atas inisiatif kegiatan ini.
“Kegiatan literasi digital yang dilakukan oleh dosen Universitas Muhammadiyah Mataram ini merupakan yang pertama kali di TK ABA 5. Materinya sangat relevan dengan kebutuhan kami, apalagi banyak orang tua yang mengeluh anaknya terlalu sering bermain smartphone,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut membantu guru dan wali murid memahami cara yang tepat dalam mendampingi anak menggunakan media digital agar lebih bermanfaat bagi tumbuh kembang mereka.
Senada dengan itu, Novia Angraini, salah satu wali murid peserta kegiatan, mengaku mendapatkan banyak ilmu baru.
“Sebagian besar dari ilmu yang kami peroleh selama pelatihan ini benar-benar baru bagi kami. Saya sangat senang karena para dosen dan mahasiswa juga datang ke rumah untuk melihat bagaimana praktiknya setelah pelatihan. Itu bentuk kepedulian yang luar biasa,” tuturnya.
Dr. Suhadah menjelaskan bahwa pola literasi yang diterapkan dalam kegiatan ini terbukti efektif karena melibatkan seluruh pihak — guru, murid, dan orang tua — dalam satu sistem pembelajaran yang berkesinambungan.
Menurutnya, kombinasi antara penyuluhan di sekolah dan pendampingan langsung di rumah menjadi model ideal dalam membangun ekosistem literasi digital berbasis keluarga.
Hasil riset yang dilakukannya bersama tim pada 2024 juga memperkuat temuan ini: anggota Persyarikatan Muhammadiyah Kota Mataram belum secara total menerapkan literasi digital keluarga. Karena itu, pola seperti yang diterapkan di TK ABA 5 Mataram dinilai layak untuk direplikasi di berbagai lembaga pendidikan lain. ***






























