Oleh : Sukri Aruman
Belakangan ini, suasana di kampus Universitas Mataram terasa lebih hidup dari biasanya. Di sela-sela aktivitas akademik, obrolan hangat tentang suksesi kepemimpinan rektor kian ramai terdengar.
Di kafe dekat gerbang kampus, di ruang dosen, hingga di grup alumni, nama-nama bakal calon rektor berseliweran dibicarakan dengan berbagai tafsir dan spekulasi.
Tak sedikit yang menganggap kontestasi kali ini sebagai salah satu yang paling dinamis dalam sejarah kampus negeri terbesar di Nusa Tenggara Barat itu. Ada yang mendukung dengan antusias, ada pula yang menatap dengan waspada.
Bahkan, ada bakal calon yang menempuh jalur hukum karena merasa hak konstitusionalnya dipangkas akibat persoalan etik. Suasana menjadi begitu cair, tapi juga tegang—seperti ombak yang sesekali meninggi di tepi Pantai Ampenan.
Namun di tengah riuh-rendah dinamika itu, ada satu nama yang justru berjalan dengan langkah tenang, nyaris tanpa sorotan publik. Tidak banyak tampil di media, tidak berpose di spanduk besar, dan tidak menebar janji. Tapi di balik kesenyapan itu, banyak yang diam-diam memperhitungkan langkahnya. Dialah Prof. Dr. Muhamad Ali, S.Pt., M.Si., Ph.D, Dekan Fakultas Peternakan (Faterna) Universitas Mataram.
Bagi saya pribadi, nama itu bukan sekadar tokoh akademisi atau pejabat kampus. Ia adalah kawan seperjuangan, kakak tingkat, sekaligus sahabat lama sejak kami sama-sama menimba ilmu di Kampus Gembala Faterna Unram—tiga dekade silam, tepatnya antara tahun 1992 hingga 1997.
Kala itu, saya aktif di Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) dan mengelola Majalah Kampus Konsentrat, sementara Kanda Ali menjabat Ketua Umum Senat Mahasiswa. Kami sama-sama bergiat di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat dan Cabang, dan bertemu lagi dalam forum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) NTB, tempat di mana Kanda Ali juga menjadi salah satu pengurus inti.
Dari masa-masa sebagai aktivis kampus itu, saya mengenal betul siapa Ali muda—ramah, sederhana, tapi penuh daya hidup. Ia bukan tipe yang banyak bicara, tapi setiap kata yang diucapkannya mampu menggerakkan orang lain untuk bertindak.

Kenangan dari Masa Mahasiswa
Saya masih ingat suatu sore di tempat kosnya di bilangan Kekalik Mataram. Kanda Ali memanggil saya, menyuguhkan segelas teh manis hangat, lalu membuka percakapan dengan senyum khasnya.
“Sebentar lagi ada regenerasi kepemimpinan mahasiswa,” katanya pelan, “figur pengganti setelah saya mesti disiapkan.”
Dengan tenang ia menatap saya, lalu berkata,
“Bagaimana kalau meton maju menggantikan saya jadi Ketua Senat?”
Saya tertawa kecil, lalu menolak dengan alasan diplomatis.
“Saya cukup di BPM saja, Pak Ketua. Saya ingin fokus mengelola Majalah Konsentrat biar tetap hidup. Kita cari yang lain saja dah.”seloroh saya.
Ia hanya tersenyum, tanpa memaksa. Begitulah Ali—selalu memberi ruang bagi siapa pun untuk berkembang dengan caranya masing-masing.
Kanda Ali dikenal sebagai aktivis kampus sejati. Ia menapaki banyak peran, dari organisasi intra hingga ekstra kampus. Ia juga salah satu penggerak Majelis Taklim An-Nahl dan Babul Hikmah Unram, dua lembaga dakwah mahasiswa yang kala itu menjadi ruang spiritual di tengah hiruk-pikuk aktivisme.
Namun yang paling mengagumkan, di tengah kesibukan organisasinya, prestasi akademiknya tetap gemilang. Ia pernah dinobatkan sebagai Mahasiswa Peneliti Terbaik Nasional, membawa pulang piala setinggi lebih dari satu meter—tropi kemenangan yang menjadi kebanggaan seluruh warga Faterna. Sejak itu, berbagai lomba karya tulis ilmiah tingkat regional dan nasional pun kerap ia menangi.
Ali muda selalu berpikir sistematis. Ia gemar mengurai setiap persoalan menggunakan pendekatan SWOT—Strength, Weakness, Opportunity, Threat—yang saat itu masih asing bagi kami.
Tapi begitulah caranya berpikir: strategis, logis, dan penuh perhitungan. Tak heran, sejak masa kuliah, banyak yang menyebutnya sebagai the real strategist.

Dari Aktivis Menjadi Akademisi Visioner
Waktu berjalan cepat. Kami semua berpisah jalan setelah wisuda, tapi kiprah Ali terus menanjak. Setelah menamatkan S2 di Institut Pertanian Bogor (IPB), ia melanjutkan studi ke Jepang, menuntaskan gelar Ph.D di Nagoya University, lalu melanjutkan post-doctoral di Toyama University.
Sepulangnya dari Negeri Sakura, Prof Ali kembali ke kampus, mengajar, membimbing skripsi dan tentu saja tugas pengabdian pada masyarakat.
Perpaduan yang unik sebagai aktivis kampus sejak dulu, menjadi akademisi dan peneliti membuatnya mendapat kepercayaan sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unram dua periode sejak 2017-2022.
Prof Ali pun mendapat kepercayaan sebagai orang nomor satu, memimpin almamaternya sendiri sebagai Dekan Fakultas Peternakan Universitas Mataram hingga kini.
Di bawah kepemimpinannya, Kampus Gembala Faterna Unram dikenal semakin produktif dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Yang menarik, kerendahan hatinya tetap sama. Meski kini bergelar profesor dan menjabat dekan, ia tetap mudah didekati, tetap hangat dalam menyapa, dan tidak berubah sedikit pun dari sosok yang saya kenal tiga dekade lalu.
Lima Langkah Akselerasi Unram Unggul
Baru-baru ini saya kembali bertemu dengan Prof Ali. Dengan rasa penasaran, saya menanyakan kabar yang beredar di kalangan kampus. “Saya dengar Prof salah satu calon kuat rektor Unram. Bagaimana sebenarnya?”
Ia tersenyum, seperti menahan sesuatu.
“Iya, Insya Allah. Kalau memang amanah itu datang, kita siap berbuat yang terbaik untuk Unram,” jawabnya tenang.
Saya melanjutkan,“Kalau nanti dipercaya, apa kebaruan yang ingin Prof bawa?”
Seperti biasa, jawabannya runtut dan bernas. Ia lalu memaparkan lima program prioritas untuk mempercepat Unram menjadi universitas berkelas dunia:
1. Akselerasi Daya Saing Global – memperkuat reputasi dan kolaborasi internasional.
2. Transformasi Kampus Smart & Sustainable – kampus yang cerdas digital dan ramah lingkungan.
3. Kampus Berdampak – kegiatan akademik yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
4. Membangun Academic Milieu – menciptakan atmosfer akademik yang sehat dan kolaboratif.
5. Kampus Innopreneurial – mendorong inovasi dan kewirausahaan di kalangan dosen dan mahasiswa.
“Kalau semua program ini berjalan,” ujarnya, “saya yakin Unram akan jadi rumah besar bagi para pencari ilmu sekaligus pusat inovasi yang membanggakan NTB di kancah nasional dan global.”
Sederhana, tapi jelas arah dan visinya. Begitulah Prof. Ali—berpikir strategis, tapi tetap membumi.
Kuda Hitam yang Tenang Tapi Pasti
Menariknya, meski banyak pihak menilai ia calon terkuat, Prof. Ali justru nyaris tak muncul di panggung media. Tak ada baliho besar, tak ada kampanye terbuka. Ia bekerja dalam diam, tapi langkahnya kokoh. Banyak pihak menyebutnya “kuda hitam”—diam, namun siap menyalip di tikungan terakhir.
Ia bukan sosok yang mengejar jabatan, melainkan pemimpin yang menunggu waktu untuk mengabdi lebih luas. Beberapa kali ia dipercaya menjadi Pelaksana Tugas (Plt.) di jabatan strategis—kepercayaan yang jarang diberikan bila bukan pada orang yang benar-benar mumpuni.
Sosok Inspiratif dalam Keluarga
Bagi saya, hal yang paling indah dari perjalanan Prof. Ali adalah bagaimana ia tetap menjadi teladan di rumah dan keluarga besarnya.

Sebagai suami dari Prof. Dr. Embun Suryani, S.E., M.Si., Ph.D., ia dikenal sebagai pasangan yang saling menopang dalam karier akademik dan pengabdian. Di rumah, ia adalah sosok ayah yang hangat dan rendah hati—memandang keberhasilan bukan sebagai milik pribadi, tetapi amanah yang harus memberi manfaat bagi banyak orang.
Inspirasi Prof. Ali juga menjalar ke lingkungan keluarga besarnya. Menjadi inspirasi bagi empat bersaudara ini. Adiknya, Alimudin, S.Pt., M.Si sedang menyelesaikan pendidikan doktoral dan kini menjabat Dekan Fakultas Peternakan Universitas NW Mataram, mengikuti jejak sang kakak sebagai akademisi dan pemimpin fakultas.
Demikian juga adiknya yang nomor tiga Muhamad Amin, SPi, MSc.,PhD adalah lulusan doktoral Tasmania University Hobart Australia, kini menjadi dosen Fakultas Sains Universitas Brunei Darussalam.
Sementara adiknya yang paling bungsu,Halil Akhyar, ST, M.Sc menjadi dosen IT Fakultas Teknik Universitas Mataram setelah menamatkan pendidikan S2 di James Cook University Australia.
Bagi keluarga besar Prof Ali, pengabdian di dunia pendidikan sudah menjadi semacam tradisi mulia—sebuah warisan nilai yang berakar dari semangat belajar tanpa henti. Prof Ali menjadi sosok inspirasi, motivator dan idola bagi saudara-saudaranya berkarir sebagai akademisi dan peneliti.

Pemimpin yang Disiapkan Waktu
Saya mengenal Prof. Ali bukan sebagai sosok yang hanya dilihat dari jauh, tetapi sebagai pribadi yang tumbuh dalam perjalanan panjang dan penuh makna. Kami pernah berbagi ruang dalam berbagai dinamika—dari rapat malam yang melelahkan di sekretariat mahasiswa, hingga diskusi hangat di bawah rindangnya pohon Ketapang kampus.
Dari situ, saya menyaksikan sendiri bagaimana waktu membentuknya: bukan sekadar menjadi intelektual, tetapi menjadi pemimpin yang matang oleh pengalaman, sabar oleh proses, dan bijak oleh pembelajaran hidup.
Yang paling menonjol dari Prof. Ali bukan hanya kecerdasannya, tetapi ketenangan yang lahir dari keyakinan. Ia tak pernah tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, namun selalu sigap ketika dibutuhkan.
Di balik tutur katanya yang lembut, tersimpan keberanian untuk melangkah melawan arus jika itu demi kebenaran. Dan di balik senyumnya yang tenang, ada tekad kuat untuk membawa perubahan, bukan sekadar memoles permukaan.
Saya percaya, waktu telah menyiapkan Prof. Ali untuk peran besar. Ia bukan sosok yang datang tiba-tiba, melainkan seseorang yang ditempa oleh pengalaman panjang dan pengabdian yang konsisten.
Dalam setiap langkahnya, selalu ada kesadaran bahwa kepemimpinan bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang pelayanan. Ia mengerti bahwa universitas bukan sekadar tempat mencari gelar, tetapi arena membangun peradaban.
Bila kelak takdir mempercayakan Prof. Ali menakhodai Universitas Mataram, saya yakin kampus ini akan melangkah ke babak baru—lebih berdaya, lebih terbuka, dan lebih bermartabat.
Ia akan membawa semangat kolaborasi yang sesungguhnya, di mana dosen, mahasiswa, dan seluruh civitas akademika merasa menjadi bagian dari gerak perubahan. Bukan hanya unggul di laporan dan ranking, tetapi benar-benar relevan di mata masyarakat, di dunia kerja, dan di percaturan global.
Prof. Ali memahami bahwa perubahan besar tidak lahir dari gebrakan sesaat, tetapi dari proses yang konsisten dan berakar pada nilai. Ia bukan tipe pemimpin yang mencari sorotan, melainkan yang membangun pondasi agar orang lain bisa bersinar.
Mungkin karena itu pula, banyak yang menyebutnya sebagai “kuda hitam” — tak banyak bicara, tapi selalu bekerja. Diam-diam melangkah, hingga akhirnya semua menyadari bahwa langkahnya paling jauh.
Dan bila kelak sejarah menulisnya, saya berharap ia dikenang bukan hanya sebagai rektor yang berhasil, tetapi sebagai pemimpin yang disiapkan oleh waktu—yang menjemput takdirnya bukan dengan ambisi, tetapi dengan pengabdian; bukan dengan kecepatan, tetapi dengan keteguhan; bukan dengan sorak-sorai kemenangan, tetapi dengan hasil nyata yang menyentuh kehidupan banyak orang.
Sebab pada akhirnya, kepemimpinan sejati bukan tentang siapa yang pertama tiba di garis akhir, tetapi siapa yang meninggalkan jejak paling dalam di hati orang-orang yang ia layani. Dan saya percaya, Prof. Ali akan menjadi salah satunya. ***
Penulis : Sukri Aruman
Editor : SuluhNTB Editor































