SULUHNTB.COM – Tekanan yang terus menghantam pasar keuangan nasional sepanjang semester pertama 2026 dinilai bukan sekadar gejolak biasa.
Koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mendekati 40 persen dari posisi puncaknya pada Januari 2026, disertai pelemahan rupiah hingga menembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, mencerminkan meningkatnya persepsi risiko terhadap Indonesia di mata investor.
Analis Ekonomi Politik Menteng Kleb sekaligus Co-Founder FINE Institute, Kusfiardi, menilai pasar saat ini tidak hanya melakukan penyesuaian terhadap harga saham dan nilai tukar, tetapi juga sedang mengevaluasi kembali tingkat kepercayaan terhadap ketahanan sistem keuangan nasional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Yang sedang dikoreksi pasar bukan hanya saham dan rupiah. Yang sedang dinilai ulang adalah risiko Indonesia itu sendiri. Karena itu, gejolak yang terjadi saat ini perlu dibaca lebih dalam daripada sekadar volatilitas pasar biasa,” ujar Kusfiardi.
Menurutnya, terdapat sejumlah indikator yang menunjukkan bahwa tekanan pasar kali ini memiliki dimensi yang lebih kompleks dibandingkan periode sebelumnya.
Ia menjelaskan, faktor eksternal seperti penguatan dolar AS, ketegangan geopolitik global, maupun tingginya suku bunga internasional memang menjadi pemicu awal.
Namun, kedalaman koreksi yang terjadi mengindikasikan adanya persoalan domestik yang lebih mendasar.
Salah satu persoalan tersebut adalah struktur pasar keuangan Indonesia yang masih relatif dangkal dan sangat bergantung pada arus modal asing. Kondisi ini membuat pasar domestik rentan terhadap perubahan sentimen global maupun keputusan lembaga keuangan internasional.
Fenomena tersebut terlihat jelas saat proses rebalancing indeks MSCI pada Mei 2026. Keluarnya sejumlah emiten besar dari indeks acuan global itu memicu gelombang aksi jual investor asing yang berdampak langsung pada pasar saham dan nilai tukar rupiah.
“MSCI memang bukan regulator Indonesia. Namun keputusan lembaga indeks global mampu memengaruhi likuiditas, biaya modal, dan persepsi risiko pasar Indonesia secara langsung. Ini menunjukkan bahwa pasar kita masih sangat sensitif terhadap keputusan aktor keuangan global,” jelasnya.
Kusfiardi menyoroti perbedaan tingkat tekanan antara pasar saham dan pasar valuta asing. Sejak awal tahun, nilai tukar rupiah tercatat melemah sekitar 10 persen. Namun dalam periode yang sama, IHSG mengalami koreksi hampir empat kali lebih dalam.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa investor tidak hanya mengurangi kepemilikan aset berbasis rupiah, melainkan juga melakukan penilaian ulang terhadap prospek investasi di Indonesia secara keseluruhan.
“Jika rupiah melemah 10 persen tetapi pasar saham jatuh hampir empat kali lebih dalam, maka ada pesan yang lebih besar daripada sekadar penguatan dolar AS. Pasar sedang melakukan penilaian ulang terhadap prospek dan risiko Indonesia,” katanya.
Di tengah derasnya arus keluar modal asing, investor domestik memang mampu menjadi penyangga utama pasar. Namun, Kusfiardi mengingatkan bahwa kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan ketahanan pasar yang kuat.
Menurutnya, kemampuan investor domestik menyerap tekanan jual justru menggambarkan besarnya tekanan yang sedang terjadi di pasar keuangan nasional.
Ia juga menilai perhatian publik selama ini terlalu terfokus pada persoalan likuiditas, padahal isu yang kini berkembang telah bergeser ke aspek yang lebih mendasar, yakni kredibilitas sistem keuangan dan kebijakan ekonomi.
Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah bersama Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bursa Efek Indonesia telah mengeluarkan berbagai langkah stabilisasi. Kebijakan tersebut meliputi intervensi pasar valuta asing, dukungan terhadap pasar obligasi, relaksasi buyback saham, hingga penyesuaian aturan perdagangan saham.
Meski langkah-langkah itu dinilai penting untuk menjaga stabilitas jangka pendek, pasar disebut tengah menguji aspek yang lebih luas.
“Pasar sedang menguji kredibilitas kebijakan, kepastian regulasi, kualitas tata kelola, dan kemampuan negara menjaga stabilitas sistem keuangan. Karena itu, tantangan yang dihadapi saat ini bukan semata persoalan likuiditas, tetapi juga persoalan kepercayaan,” tegas Kusfiardi.
FINE Institute juga mengingatkan agar berbagai proyeksi optimistis mengenai penguatan rupiah dalam waktu dekat tidak disikapi secara berlebihan.
Secara teori, penguatan rupiah memang memungkinkan jika terjadi pembalikan arus modal asing, peningkatan devisa ekspor, membaiknya sentimen global, dan pulihnya kepercayaan investor.
Namun, hingga awal Juni 2026, indikator tersebut dinilai belum terlihat cukup kuat. IHSG masih bergerak dalam tren koreksi tajam, rupiah berada di salah satu titik terlemah dalam dua dekade terakhir, sementara arus keluar dana asing masih berlanjut.
“Pasar tidak bekerja berdasarkan target atau harapan semata. Pasar bekerja berdasarkan kepercayaan. Selama faktor-faktor yang menjadi sumber kekhawatiran investor belum terjawab, maka volatilitas masih akan tetap tinggi,” ujarnya.
Kusfiardi menegaskan, gejolak pasar sepanjang Mei hingga awal Juni 2026 harus menjadi alarm bagi pemerintah untuk mempercepat reformasi struktural di sektor keuangan.
Langkah yang diperlukan, kata dia, mencakup pendalaman pasar keuangan domestik, penguatan investor institusional nasional, peningkatan free float emiten, perbaikan tata kelola pasar, serta penciptaan kepastian kebijakan yang lebih konsisten.
“Jika tidak ada penguatan fondasi pasar keuangan domestik, maka setiap perubahan sentimen global akan terus menghasilkan tekanan yang besar terhadap pasar Indonesia. Gejolak yang terjadi saat ini harus menjadi momentum untuk membangun pasar keuangan yang lebih tahan terhadap guncangan eksternal,” pungkasnya.***
Penulis : SN-02
Editor : SuluhNTB Editor









































