SULUHNTB.COM – Saat ini di tengah derasnya arus digital, banyak orang mengalami penurunan fokus, mudah terdistraksi, cepat lelah secara mental, dan kehilangan ketenangan, tanpa benar-benar menyadarinya.
Kondisi ini dikenal sebagai brain rot, yaitu melemahnya kejernihan berpikir akibat konsumsi konten digital yang berlebihan dan minimnya jeda bagi otak untuk beristirahat.
Fenomena tersebut menjadi tema utama dalam kajian bertajuk “Dari Scroll ke Sujud: Menjaga Akal dari Brain Rot” yang disampaikan oleh Azimah Subagijo, Ketua Umum Perhimpunan Masyarakat Tolak Pornografi sekaligus Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga DKM Masjid Raya Palapa Baitus Salam, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Kajian ini merupakan bagian dari kajian rutin bulanan yang difokuskan pada penguatan peran perempuan dan ketahanan keluarga, dengan mengangkat isu-isu aktual yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dalam pemaparannya, Azimah menjelaskan bahwa brain rot tidak hanya berdampak pada produktivitas dan emosi, tetapi juga pada kualitas hubungan dalam keluarga serta kemampuan seseorang untuk hadir secara utuh dalam aktivitas spiritual.

Kebiasaan terus-menerus mengakses gawai, menurutnya, membuat pikiran terbiasa serba cepat, dangkal, dan sulit tenang.
Tema kajian ini juga dikaitkan dengan peringatan Isra’ Mi’raj, momentum penting dalam sejarah Islam yang menandai diterimanya perintah shalat lima waktu. Islam, sejak awal, menempatkan akal sebagai sesuatu yang harus dijaga.
Karena itu, berbagai hal yang merusak akal seperti alkohol, narkoba, dan pornografi dilarang, karena berdampak serius pada kesadaran dan kualitas hidup manusia.
“Shalat lima waktu sejatinya adalah sistem jeda yang Allah berikan agar manusia kembali fokus, tenang, dan sadar di tengah kesibukan dan distraksi,” ujar Azimah.
Shalat dipandang sebagai salah satu solusi efektif untuk menghadapi brain rot, karena melatih konsentrasi, menghadirkan ketenangan, dan membangun kesadaran diri secara rutin.
Dengan shalat yang dilakukan secara sadar dan khusyuk, seseorang diajak berhenti sejenak dari rutinitas digital dan kembali terhubung dengan nilai-nilai yang lebih dalam.
Dalam kajian ini, hadir sekitar 100 orang peserta yang kemudian juga diajak melakukan langkah-langkah sederhana, seperti mengelola penggunaan gawai di rumah, menciptakan waktu bebas layar, serta menjadikan shalat sebagai pusat ritme kehidupan keluarga.
Kegiatan ditutup dengan ajakan dan komitmen bersama untuk lebih bijak dalam bermedia digital, menjaga kejernihan akal, serta memperkuat keluarga melalui kebiasaan spiritual yang menenangkan dan membangun.(***)
Penulis : SN-03
Editor : Suluh NTB Editor






























