Menguak Mistis Lombok dalam Film Horor “Seher”: Kisah Cinta, Budaya, dan Ilmu Hitam

Senin, 17 Maret 2025 - 16:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

SULUHNTB.COM – Di tengah gemerlap industri perfilman Indonesia yang semakin beragam, sebuah karya lokal dari Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, berhasil mencuri perhatian publik.

Film horor berjudul Seher, produksi rumah kreatif Lenteng Tedes, bukan hanya sekadar tontonan menyeramkan, tetapi juga jendela budaya yang mengangkat mitos dan kepercayaan masyarakat Sasak ke layar lebar.

Sejak dirilis pada 11 Maret 2025 di kanal YouTube Lenteng Tedes, film ini telah ditonton lebih dari 2 juta kali dalam waktu singkat, menjadikannya fenomena viral yang mengguncang jagat media sosial.

Dari Mitos Lokal ke Layar Digital

Seher mengambil inspirasi dari istilah dalam bahasa Sasak yang berarti “sihir” atau “ilmu hitam”. Dalam budaya Lombok, seher dikenal sebagai praktik mistis yang diyakini masih hidup di beberapa kalangan, meski kerap dianggap tabu karena bertentangan dengan nilai agama.

Film ini mengisahkan Burhan, seorang pemuda dari keluarga sederhana yang jatuh cinta pada Salbiah, gadis dari keluarga yang lebih berada. Ketika hubungan mereka ditentang oleh ibu Salbiah karena perbedaan status sosial, Burhan terjerumus ke dalam keputusasaan.

Dalam upaya membalas dendam dan memenangkan cinta, ia memilih jalan gelap dengan menggunakan ilmu hitam—seher.

Sutradara Gagas Fagiara Gamarsese, yang juga tampil sebagai figuran dalam film ini, mengungkapkan bahwa ide cerita lahir dari realitas sosial dan cerita-cerita mistis yang ia dengar sejak kecil di Sambelia, Lombok Timur. “Kami ingin menghadirkan sesuatu yang autentik, yang benar-benar mencerminkan kehidupan dan kepercayaan masyarakat di sini,” ujar Gagas dalam wawancara dengan media lokal.

Baca Juga :  NARASI: NTB Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak dalam Konflik Sosial: Tantangan dan Harapan

Dengan pendekatan ini, Seher tidak hanya menawarkan ketegangan horor, tetapi juga menggali dimensi budaya yang jarang tersentuh oleh film mainstream.

Produksi Lokal yang Mengglobal

Diproduksi oleh Lenteng Tedes, rumah produksi independen yang berbasis di Sambelia, Seher menjadi bukti bahwa kreativitas lokal mampu bersaing di panggung nasional bahkan internasional.

Film ini melibatkan talenta-talenta muda Lombok seperti Oktora Panji Swara, yang turut menggarap cerita, serta para aktor lokal seperti Oleng, Nicky Onefive, dan Leni Yulianti.

Dengan anggaran yang terbatas, tim Lenteng Tedes mengandalkan lokasi asli di Lombok Timur, tata cahaya redup, dan efek suara yang dirancang untuk membangun suasana mencekam tanpa terlalu bergantung pada jumpscare.

Trailer Seher yang dirilis sebelum penayangan penuh berhasil menduduki posisi kedua dalam daftar trending YouTube Indonesia, mengalahkan trailer film besar seperti Lilo & Stitch dari Disney dan Thunderbolts dari Marvel.

Dalam tiga hari pertama, trailer itu telah ditonton lebih dari 127 ribu kali, menunjukkan antusiasme publik yang luar biasa bahkan sebelum filmnya resmi tayang.

Resonansi dengan Penonton

Keberhasilan Seher tak lepas dari cara film ini merangkai elemen horor dengan narasi emosional yang relatable—kisah cinta yang rumit dan konflik kelas sosial.

“Ini bukan cuma horor biasa. Ada cerita cinta dan perjuangan yang bikin kita ikut merasa,” tulis seorang penonton di kolom komentar YouTube.

Sementara itu, pengguna media sosial lainnya memuji keberanian film ini mengangkat budaya Sasak ke ranah yang lebih luas.

Baca Juga :  NARASI: NTB Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak dalam Konflik Sosial: Tantangan dan Harapan

“Film ini membuktikan bahwa cerita lokal bisa jadi besar kalau dikemas dengan hati,” cuit salah satu akun di X.

Namun, Seher juga menuai sedikit kritik. Beberapa penonton merasa penggunaan ilmu hitam dalam cerita terlalu stereotipikal dan kurang mendalam dalam mengeksplorasi dampaknya.

Meski begitu, mayoritas setuju bahwa kekuatan film ini terletak pada autentisitasnya dan pendekatan sinematik yang membangun ketegangan secara perlahan, menciptakan pengalaman horor yang lebih mendalam.

Dampak dan Harapan ke Depan
Kesuksesan Seher tidak hanya menjadi kebanggaan bagi Lombok, tetapi juga menginspirasi sineas muda di daerah lain untuk mengangkat cerita lokal mereka sendiri.

Dalam waktu kurang dari seminggu, film ini telah mencatat lebih dari satu juta penonton di YouTube, menjadikannya salah satu film indie terlaris dari Lombok.

Lenteng Tedes pun kini mulai digadang-gadang sebagai pionir baru dalam perfilman independen Indonesia.
Bagi Gagas dan timnya, Seher adalah langkah awal.

Mereka berharap bisa terus berkarya, mungkin dengan sekuel atau proyek baru yang lebih ambisius.

“Kami ingin dunia tahu bahwa Lombok punya cerita, punya talenta, dan punya cara sendiri untuk bikin orang takut sekaligus kagum,” tutup Gagas dengan senyum.

Dengan perpaduan horor, cinta, dan budaya lokal yang kental, Seher bukan sekadar film—ia adalah cermin jiwa masyarakat Sasak yang kini bersinar di tengah sorotan publik.

Bagi pecinta horor atau siapa saja yang penasaran dengan kekayaan mistis Nusantara, Seher wajib masuk daftar tontonan Anda. ***

 

Penulis : M. Zamzami Sangga Firdaus

Editor : Editor SuluhNTB

Berita Terkait

NARASI: NTB Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak dalam Konflik Sosial: Tantangan dan Harapan

Berita Terkait

Rabu, 19 Maret 2025 - 06:36 WIB

NARASI: NTB Perkuat Perlindungan Perempuan dan Anak dalam Konflik Sosial: Tantangan dan Harapan

Senin, 17 Maret 2025 - 16:35 WIB

Menguak Mistis Lombok dalam Film Horor “Seher”: Kisah Cinta, Budaya, dan Ilmu Hitam

Berita Terbaru