Membaca Visi Global Prof Muhamad Ali: Rektor Masa Depan yang Menjawab Tantangan Transformasi Universitas Mataram

Oleh : Muhamad Dicky Subagia

Rabu, 12 November 2025 - 19:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Senin, 10 November 2025, menjadi catatan penting dalam sejarah Universitas Mataram. Guru Besar sekaligus Dekan Fakultas Peternakan, Prof. Muhammad Ali, resmi mendaftarkan diri sebagai calon Rektor Universitas Mataram.

Ia menjadi figur ketiga yang meneguhkan langkahnya dalam kontestasi rektor, membawa visi “Unram Unggul dan Berdaya Saing Global.” Namun, di balik proses administratif ini, terdapat gagasan besar yaitu bagaimana sebuah universitas di timur Indonesia bertransformasi menjadi pusat keunggulan ilmiah yang diakui dunia.

Momentum pencalonan Prof Ali pada 10 November 2025, bertepatan dengan Hari Pahlawan, terasa simbolik. Ia membawa semangat kepemimpinan akademik yang tidak hanya ingin membangun gedung dan program, tetapi juga membangun martabat ilmiah Unram di tingkat nasional dan internasional.

Universitas Mataram yang menjadi pusat pendidikan di Nusa Tenggara Barat menjadi panggung transformasi yang siap ia arahkan menuju poros globalisasi pendidikan Indonesia Timur.

Prof. Muhammad Ali bukan sekadar akademisi dengan gelar guru besar. Ia adalah pemimpin dengan rekam jejak konkret dalam transformasi kelembagaan. Di bawah kepemimpinannya, Indikator Kinerja Utama (IKU) Unram melesat dari peringkat 27 nasional (2022) menjadi peringkat 3 nasional PTN BLU (2024).

Kenaikan itu bukan hanya simbol administratif, melainkan bukti kepemimpinan berbasis kinerja, inovasi, dan integritas. Dari tambahan BOPTN Rp17 miliar menjadi Rp57 miliar hingga bonus IKU Rp7 miliar, capaian tersebut menunjukkan efektivitas manajemen berbasis hasil. Kenaikan ini bukan hanya angka, tetapi representasi dari budaya kerja kolektif, transparansi, dan efektivitas kebijakan kampus.

Visi yang diusung Prof. Ali bukan sekadar jargon globalisasi. Ia memaknainya sebagai konvergensi antara pengetahuan, teknologi, dan kearifan lokal. Melalui gagasan pengembangan kampus satelit di Lombok Utara dan Sumbawa, Prof. Ali berupaya mendekatkan akses pendidikan tinggi di wilayah kepulauan NTB.

Selain itu, penguatan university farm dan science techno park menjadi langkah konkret menjadikan Unram bukan hanya tempat belajar, tetapi ekosistem inovasi yang menghasilkan produk unggulan seperti lamtoro beef, madu, mutiara, hingga alat deteksi penyakit cepat.

Unram memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang pendidikan tinggi di kawasan timur Indonesia. Prof. Ali memahami betul konteks geopendidikan ini.

Dengan jaringan global yang terbangun dari pengalamannya menempuh doktoral di Universitas Nagoya, Jepang, serta partisipasi dalam tiga pelatihan kepemimpinan universitas global, ia melihat Unram sebagai poros kolaborasi internasional, khususnya dengan Australia, Selandia Baru, dan Pasifik Selatan.

Dalam pandangan Prof. Ali, peran perguruan tinggi masa kini harus melampaui Tridharma. Penelitian dan pengabdian tidak cukup berhenti di jurnal atau laporan, tetapi harus berdampak nyata bagi masyarakat dan industri.
Ia menilai inilah saat yang tepat bagi Unram untuk melakukan transformasi epistemologis yakni menghubungkan sains dengan kebutuhan sosial-ekonomi lokal.

Di tengah kompetisi global dan disrupsi digital, perguruan tinggi dituntut tidak hanya mencetak lulusan, tetapi melahirkan agen perubahan. Prof. Ali hadir dengan paradigma baru yaitu universitas bukan hanya menara gading melainkan pusat gerak sosial.

Dengan usulan pendirian fakultas-fakultas baru seperti Fakultas Kelautan dan Perikanan, Program Studi Manajemen Sumber Daya Air, dan Teknologi Pertambangan, ia ingin menjadikan Unram relevan terhadap potensi lokal NTB sekaligus kompetitif secara global.

Dalam kacamata ilmiah dan manajerial, pencalonan Prof Ali bukan sekadar kontestasi jabatan, tetapi manifestasi gagasan tentang bagaimana universitas daerah mampu menjadi pemain global. Visi “unggul dan berdaya saing global” bukan jargon, melainkan tuntutan zaman di mana knowledge economy dan digital transformation menjadi tolak ukur eksistensi perguruan tinggi.

Prof Ali memahami bahwa universitas modern harus bergerak melampaui Tridharma Perguruan Tinggi menuju konsep Impact University, kampus yang menghasilkan inovasi, teknologi, dan dampak sosial langsung.

Kunci dari visi besar Prof. Ali terletak pada kepemimpinan ilmiah yang partisipatif.

Ia tidak hanya berbicara tentang apa yang harus dilakukan, tetapi juga menunjukkan bagaimana melakukannya. Transformasi digital, penguatan tata kelola, dan orientasi riset berbasis kebutuhan masyarakat adalah tiga poros utama yang menandai kepemimpinannya.

Dengan pendekatan berbasis data dan kolaborasi lintas fakultas, Prof. Ali ingin menjadikan Unram model universitas inovatif dan berdaya saing di era 5.0.

Sebagai bagian dari civitas akademika yang mencermati perjalanan Unram, saya melihat Prof. Muhammad Ali sebagai representasi kepemimpinan akademik yang berakar dan berwawasan global. Ia tidak datang dengan slogan kosong, melainkan dengan bukti empiris dan visi progresif.

Pencalonannya sebagai Rektor bukan sekadar momentum politik kampus, tetapi manifestasi dari cita-cita ilmiah untuk membawa Unram melampaui batas geografis dan epistemologis.

Pencalonan Prof. Muhammad Ali bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan momentum renaisans bagi Universitas Mataram. Di tengah arus globalisasi pendidikan yang kian kompetitif, sosoknya menghadirkan keseimbangan antara visi global dan akar lokal.

Dalam diri Prof. Ali, kita melihat cermin pemimpin akademik masa depan yakni ilmuwan yang berpikir sistematis, manajer yang berorientasi hasil, dan pendidik yang menanamkan nilai kemanusiaan.

Jika Unram ingin melangkah menuju universitas kelas dunia, maka kepemimpinan yang berbasis data, inovasi, dan keberpihakan sosial seperti yang ditawarkan Prof. Ali adalah jawabannya.

Unram membutuhkan rektor yang bukan hanya mampu mengelola, tetapi menginspirasi. Dan di tengah arus perubahan global, Prof. Muhammad Ali menunjukkan bahwa kepemimpinan akademik sejati adalah yang berpijak pada data, berorientasi pada dampak, dan berakar pada nilai.

Prof. Muhammad Ali bukan hanya mencalonkan diri sebagai rektor tetapi ia juga sedang menawarkan cetak biru masa depan bagi Unram, kampus yang unggul secara akademik, berdaya saing global, dan berakar kuat pada realitas lokal NTB.

Dalam dialektika antara lokalitas dan globalitas inilah, Unram berpotensi menjadi poros pengetahuan Indonesia timur yang membanggakan.

Saya juga melihat Prof Muhammad Ali sebagai representasi rektor masa depan pemimpin ilmiah yang berpikir global namun berpijak pada tanah lokal.

Capaian kinerja objektifnya diukur bukan hanya dari angka dan ranking, tetapi dari filosofi kebermanfaatan bahwa universitas harus hadir di tengah masyarakat, bukan berdiri di atasnya.

Dalam konteks persaingan global yang semakin ketat, visi Prof Ali bukan sekadar ambisi pribadi, melainkan manifes akademik kolektif untuk membawa Unram menuju kemandirian, produktivitas, dan kebanggaan nasional.

Jika visi ini terwujud, maka Unram bukan hanya Universitas Mataram melainkan Universitas Nusantara yang mendunia dari Lombok.

Jika visi “Unram Unggul dan Berdaya Saing Global” menjadi kenyataan, maka Prof. Muhammad Ali bukan sekadar calon rektor, ia adalah simbol dari kebangkitan intelektual Universitas Mataram menuju universitas kelas dunia yang tetap membumi di tanah Sasak. ***

Penulis : Muhamad Dicky Subagia

Editor : SuluhNTB Editor

Berita Terkait

NARASI: Wakil Wali Kota Surabaya Diusulkan Dicopot, Di Persimpangan Etika Pejabat, Akurasi Informasi, dan Sensitivitas Sosial
NARASI: Ketika Humor Kehabisan Argumen
NARASI: Transparansi Seleksi KPID Kalbar dan Hak Publik untuk Tahu
NARASI: Menjemput UNRAM Unggul Global, Visi Progresif Prof Muhamad Ali Menuju Indonesia Emas 2045
Skandal“PROFESOR KEMASAN”: Saat Ilmu Pengetahuan Disajikan dengan Harga Eceran 1,5 Miliar
Terimakasih Prof Ali
Prof. Ali dan Cerita ‘Kuda Hitam’ di Panggung Suksesi Rektor Unram
“Kasus Ijazah: Dari Toga ke Tersangka”

Berita Terkait

Selasa, 6 Januari 2026 - 22:53 WIB

NARASI: Wakil Wali Kota Surabaya Diusulkan Dicopot, Di Persimpangan Etika Pejabat, Akurasi Informasi, dan Sensitivitas Sosial

Senin, 5 Januari 2026 - 18:51 WIB

NARASI: Ketika Humor Kehabisan Argumen

Selasa, 30 Desember 2025 - 10:18 WIB

NARASI: Transparansi Seleksi KPID Kalbar dan Hak Publik untuk Tahu

Minggu, 14 Desember 2025 - 20:35 WIB

NARASI: Menjemput UNRAM Unggul Global, Visi Progresif Prof Muhamad Ali Menuju Indonesia Emas 2045

Selasa, 2 Desember 2025 - 16:01 WIB

Skandal“PROFESOR KEMASAN”: Saat Ilmu Pengetahuan Disajikan dengan Harga Eceran 1,5 Miliar

Berita Terbaru