Ketika Viral Mengalahkan Fakta: HMI Lafran Pane Unram Soroti Krisis Moral dan Disinformasi di Era Digital

Sabtu, 6 Juni 2026 - 10:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Umum HMI Komisariat Lafran Pane Unram Adriyan Wahyudi menyerahkan piagam penghargaan kepada Sukri Aruman, Direktur Raymindo News Network selaku salah seorang narasumber Diskusi Publik

Ketua Umum HMI Komisariat Lafran Pane Unram Adriyan Wahyudi menyerahkan piagam penghargaan kepada Sukri Aruman, Direktur Raymindo News Network selaku salah seorang narasumber Diskusi Publik

SULUHNTB.COM– Meningkatnya arus informasi di media sosial yang tidak selalu diiringi dengan kualitas dan akurasi informasi menjadi perhatian serius kalangan akademisi dan mahasiswa.

Menjawab tantangan tersebut, Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Lafran Pane Universitas Mataram menggelar dialog publik bertajuk “Ruang Digital Bukan Ruang Brutal: Meneguhkan Etika Bermedia Sosial di Tengah Krisis Moral dan Disinformasi”.

Kegiatan yang berlangsung di kawasan depan kampus Universitas Mataram pada Jumat (5/6/2026) itu menjadi ruang diskusi bagi mahasiswa untuk membahas berbagai tantangan yang muncul di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dialog publik tersebut menghadirkan praktisi media sekaligus Direktur Utama Raymindo News Network, Sukri Aruman, serta Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Mataram, Muhlis.

Ketua Umum HMI Komisariat Lafran Pane Unram, Adriyan Wahyudi, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kondisi ruang digital yang semakin dipenuhi berbagai konten menyesatkan, ujaran kebencian, hingga pergeseran nilai moral.

Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk ikut mengedukasi masyarakat agar lebih cerdas dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi informasi.

Dialog yang berlangsung interaktif itu dipandu oleh Aldian Azahari sebagai moderator dan dikoordinasikan oleh Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi HMI Komisariat Lafran Pane, Yono Oktiawan.

Dalam paparannya, Sukri Aruman mengungkapkan bahwa pola konsumsi informasi masyarakat saat ini telah mengalami perubahan besar. Media sosial dan perangkat telepon pintar kini menjadi sumber utama masyarakat memperoleh informasi.

Ia mengutip data yang menunjukkan penetrasi internet di NTB telah mencapai 71,35 persen, sementara jumlah pengguna internet nasional telah menembus angka 235,26 juta jiwa.

Baca Juga :  Kepemimpinan Baru PWI NTB, Ketua MIO Feryal Ajak Bangun Pers yang Kolaboratif dan Inklusif

Menurutnya, perkembangan tersebut membawa peluang besar sekaligus tantangan serius bagi kehidupan sosial masyarakat.

“Internet bukan hanya alat komunikasi, tetapi sudah menjadi sumber informasi, pembentuk opini, promosi bisnis, dan arena partisipasi sosial-politik masyarakat modern. Tantangan kita bukan menolak teknologi, melainkan memastikan kemajuan digital berjalan seiring dengan nilai, etika, dan tanggung jawab sosial,” ujar Sukri Aruman.

Ia menyoroti munculnya fenomena yang kini banyak terjadi di ruang digital, yakni kecenderungan masyarakat mengukur nilai suatu isu berdasarkan tingkat viralitasnya.

Fenomena yang dikenal dengan istilah “No Viral, No Justice” dan “No Viral, No Money” dinilai telah mengubah cara masyarakat memandang informasi.

Dalam kondisi tersebut, algoritma media sosial kerap memprioritaskan konten yang memancing emosi dibandingkan informasi yang berbasis fakta dan edukasi.

Akibatnya, ruang digital menjadi rentan dipenuhi hoaks, ujaran kebencian, perundungan siber, serta polarisasi sosial yang dapat mengikis nilai-nilai kebangsaan dan moral masyarakat.

Foto bersama peserta diskusi publik HMI Lafran Pane Unram pada Jumat, 5 Juni 2026 di Its Milk Cafe Mataram

Literasi Digital Jadi Kunci Menghadapi Perang Algoritma

Sementara itu, Muhlis menekankan pentingnya memperkuat kemampuan literasi digital di tengah semakin kompleksnya ekosistem media sosial.

Menurutnya, perkembangan teknologi yang begitu cepat harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam memilah informasi serta memahami cara kerja platform digital.

Ia juga menyoroti berbagai kebijakan yang mulai diterapkan sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat, kawasan Uni Eropa, dan Australia dalam mengatur penggunaan media sosial, khususnya bagi anak-anak dan remaja.
Berbagai regulasi tersebut dibuat untuk melindungi pengguna dari dampak negatif algoritma dan fitur-fitur yang berpotensi menimbulkan kecanduan digital.

Baca Juga :  Jurnalis Senior  Rudi Hidayat Masuk Dewan Pakar PWI Pusat, JMSI NTB Sampaikan Selamat

Muhlis menilai Indonesia juga perlu terus memperkuat regulasi dan edukasi publik agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi secara lebih sehat dan produktif.

Pada sesi penutup, para narasumber membagikan sejumlah langkah sederhana yang dapat diterapkan generasi muda untuk menjaga kesehatan digital sekaligus menghindari dampak negatif media sosial.

Beberapa di antaranya adalah menerapkan digital detox secara berkala dengan membatasi waktu penggunaan gawai, mengurangi notifikasi yang tidak penting, serta melakukan kurasi terhadap akun-akun yang diikuti.

Selain itu, masyarakat juga diajak untuk membiasakan diri memverifikasi informasi sebelum membagikannya kepada orang lain.

Generasi muda juga didorong untuk menjadi pengguna aktif yang memanfaatkan media sosial untuk belajar, berkarya, dan berkolaborasi, bukan sekadar menghabiskan waktu tanpa tujuan melalui aktivitas doomscrolling.
Tak kalah penting, para peserta diingatkan agar tetap menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata melalui aktivitas sosial, olahraga, membaca buku, dan interaksi tatap muka.

“Kontrol ada di tangan kita. Gunakan teknologi sebagai alat berkarya, bukan sebagai penjajah jiwa,” tutup Sukri dalam pesan edukatifnya yang disambut antusias oleh peserta dialog.

Melalui dialog publik tersebut, HMI Komisariat Lafran Pane Unram berharap kesadaran generasi muda terhadap pentingnya etika bermedia sosial semakin meningkat.

Di tengah derasnya arus informasi dan maraknya disinformasi, literasi digital dinilai menjadi benteng utama untuk menjaga kualitas demokrasi, memperkuat karakter generasi muda, serta menciptakan ruang digital yang sehat, aman, dan beradab. ***

Penulis : SN-07

Editor : SuluhNTB Editor

Berita Terkait

Syafrin Salam Terpilih Aklamasi Pimpin Forum Pewarta Lombok 
FHISIP Unram Apresiasi Inisiatif Kemitraan Pengda JMSI NTB
Inilah Alasan Jurnalis NTB Didorong Kuasai Literasi Digital dan Etika Penggunaan AI!
Audiensi Pengurus PWI di Mabes Polri, PWI Dorong Konsistensi MoU Dewan Pers – Polri
Marak Fenomena Balita Kecanduan Smartphone, Dosen Ummat Mataram Gelar Pengabdian Masyarakat Menyasar Taman Kanak-Kanak. Inilah Hasilnya!
Jalin Kemitraan, PWI NTB Silaturahmi dengan Wagub Indah
Ingin Sejahterakan Rakyat NTB, Kapolda Minta Wartawan Sukseskan IPR
Bahas Sinergi Pers dan Pembangunan Daerah, Bupati Loteng Apresiasi Kehadiran PWI NTB

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 10:30 WIB

Ketika Viral Mengalahkan Fakta: HMI Lafran Pane Unram Soroti Krisis Moral dan Disinformasi di Era Digital

Jumat, 24 April 2026 - 20:53 WIB

Syafrin Salam Terpilih Aklamasi Pimpin Forum Pewarta Lombok 

Selasa, 18 November 2025 - 19:57 WIB

FHISIP Unram Apresiasi Inisiatif Kemitraan Pengda JMSI NTB

Kamis, 13 November 2025 - 20:45 WIB

Inilah Alasan Jurnalis NTB Didorong Kuasai Literasi Digital dan Etika Penggunaan AI!

Selasa, 28 Oktober 2025 - 14:08 WIB

Audiensi Pengurus PWI di Mabes Polri, PWI Dorong Konsistensi MoU Dewan Pers – Polri

Berita Terbaru

NARASI

Sampai Kapan Indonesia Bebas Korupsi?

Jumat, 5 Jun 2026 - 22:46 WIB