Artikel di Jurnal Internasional: Gratis atau Berbayar?

Senin, 20 Oktober 2025 - 04:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis : Prof Masduki (Guru Besar Jurnalistik dan Media UII Yogyakarta)

Apakah publikasi artikel ilmiah di jurnal internasional bereputasi itu harus berbayar? adakah jurnal ilmiah terindeks global yang gratis? mengapa publikasi di jurnal akademik cenderung lama dan ‘mahal?’

Beberapa pertanyaan ini muncul dalam workshop terbatas penulisan artikel jurnal Scopus bagi mahasiswa S-2 dan S-3 Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Sabtu 4 Oktober 2025.

Selama dua sesi sejak pagi jam 10 hingga siang jam 15, saya berbagi pengalaman, tips dan motivasi menulis sambil menikmati area kampus almamater dan juga menghirup udara kota Solo di akhir pekan.

Prinsip umum yang perlu kita ikuti adalah bahwa sebuah artikel yang baik harusnya mampu membangun reputasi penulis dan membuka jejaring akademik serta pembaca yang luas.

Karenanya, ia harus terbit di rumah yang baik: jurnal ilmiah bereputasi global. Ukuran bereputasi tentu saja tidak selalu di quartile 1 dan terindeks Scopus atau WoS.

Jamak berlaku: proses produksi satu artikel memerlukan biaya operasional tertentu.

Bagi pengelola jurnal yang notabene lembaga bisnis, tersedia dua pilihan: membebankan biaya ini ke penulis (ini pilihan beresiko dan revenue-nya kecil), atau kepada pelanggan umum dan/atau sponsor.

Pada umumnya, jurnal yang bagus tidak ingin membebankan biaya produksinya ke penulis, tetapi ke pihak ketiga. Nah, jika kita cek database Schimago untuk communication journal, dari total 600 lebih nama jurnal, hanya sekitar 20% yang berbayar dan posisi mereka ada di quartil 2 atau 3, alias pada klaster tengah, bukan top.

********

Sebuah artikel berjudul: Why do scientific journals themselves charge money for their articles but don’t pay a single penny to the academic authors/researchers who submit those articles?

Jawaban atas pertanyaan ini bersifat historis dan sosial. Jurnal akademik pada awalnya adalah kerja sosial, volunteer, dikelola universitas dengan dana operasional bersumber dari kampus dan/atau langganan.

Ilmuwan yang menulis tidak dibayar, karena operasional jurnal bersifat non-profit (kecuali untuk ongkos cetak dan pengiriman pos).

Relasi jurnal dengan penulis bersifat sosial akademis, kolaboratif untuk tujuan akademik.

Pada perkembangannya seiring liberalisasi kampus, profesi dosen, marketisasi produk pengetahuan, penerbitan jurnal mulai menjadi bisnis menggiurkan, dan terkonsentrasi di publisher besar alias monopoli oleh sedikit perusahaan seperti Taylor & Francis, MDPI, Springer, Frontiers, SAGE.

Penerbitan menjadi lebih rumit, administrative, berskala global. Meskipun ada migrasi teknologi ke website, bukan lagi dicetak, biaya produksi yang meliputi promosi, manajemen submisi artikel, review, post publication, dll. tetap tinggi.

Akibatnya, relasi antara pengelola jurnal dan penulis bersifat pragmatis, transaksional, dan semakin berbasis kontrak/’kesepakatan’.

Dari perspektif ekonomi pengetahuan, model bisnis publikasi artikel terbagi tiga klaster.

Pertama, pay by subscribsion/money from paid subscribers atau berlangganan oleh perpustakaan, sehingga para penulisnya tidak dipungut biaya.

Kedua, pay by the author atau penulis diminta membayar biaya APC. Ketiga, pay by third party seperti oleh anggaran rutin kampus, pusat studi, yayasan sosial, dll. Setiap klaster ini mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Pengelola jurnal yang ingin menjaga reputasi, cenderung memilih opsi pertama, agar juga bisa memenuhi prinsip kesetaraan terbit antara penulis dari kampus ‘kaya raya’ dengan kampus negara miskin.

Pada model kedua, muncul pertanyaan kritis: berapa ongkos produksi per-artikel pada jurnal terindeks Scopus dan WoS? survei global menunjukkan ada di kisaran angka 400 hingga 1000 USD.

Artinya, jika ada penerbit jurnal mengenakan biaya APC ke penulis melebihi angka 1000 dollar tersebut, maka ia masuk kategori predator.

Dalam praktek, memang terdapat ratusan lebih jurnal yang meminta bayaran di atas 1000 USD.

Leboh lanjut, jika ditemukan ada proses review yang manipulatif, dashboard jurnal yang tidak rapi, maka ia masuk kategori jurnal predator plus abal-abal.

Beberapa penerbit terutama di sektor ilmu komputer tetap bersifat non-profit seperti yang dikelola dua asosiasi internasional (the ACM dan IEEE). Masalahnya ini minoritas.

Mayoritas penerbitan jurnal di dunia dikuasai oleh hanya segelintir publisher raksasa yang membuat bisnis jurnal ini jadi hegemonik.

Mereka menguasai ‘pasar’ perpustakaan kampus di dunia, dan meraup keuntungan besar.

Di luar mereka, puluhan penerbit berskala mikro, semacam UMKM, dan alternative publishers berbasis universitas atau korporasi non-US hanya mampu tumbuh secara gradual dan marginal.

Di luar arus ini, ada penerbit jurnal abal-abal yang mengambil ceruk ‘pasar penulis’ yang abai dengan integritas dirinya.

Dalam iklim universitas yang liberal, karir dosen amat ditentukan oleh reputasinya di jurnal bergengsi, maka dimuat tidaknya artikel ibarat suatu ujian hidup mati.

Bagi mereka: publication is almost always what makes or breaks careers – the first thing people do when evaluating a candidate for an academic position is to look at the person’s publication record.

Dalam konteks ini, suatu jurnal akan berpacu membangun reputasi dengan ‘hanya’ memuat artikel akademikus kelas dunia (gratis) dan meminta bayaran penulis medioker/promising author jika ingin artikelnya dimuat demi mencapai prestise. Sebab, publisher compete among themselves to see who can attract the best papers.

Bagaimana dengan pola/istilah open access? kenapa penulis harus membayar jika mau open access? Ini sejatinya optional.

Dalam iklim akademik yang kompetitif, ada need atas reputasi berbasis sitasi oleh penulis lain. Dalam bahasa Inggrisnya: researchers benefit, if trying for a career, because if their work is read, used, publicly accessible, cited.

Penerbit menyediakan sarana teknologi untuk memenuhinya, melalui sistem open access.

Ada dua sisi dalam praktek open access ini. Pertama, ia tak berhubungan dengan kualitas artikel alias ini murni soal akses publik yang gratis atau berbayar, biasanya penulis ditanya saat artikel sudah mau terbit.

Kedua, biaya open access yang normal biasanya variatif, misal memperhatikan asal negara penulis. Ada istilah middle income/low income countries untuk menentukan besaran biaya.

Pada konteks dua hal di atas, berlaku prinsip: the benefit to the contributors of the articles may not be immediate in monetary payment, but they will hope to gain wide readership, disseminate their ideas/knowledge, to inform and hopefully, gain citations by those in the relevant – global academic communities.

Pada dasarnya, penerbitan jurnal ilmiah tak terlepas dari ekosistem akademik. Harus ada keyakinan bahwa good quality journals are published by academic associations, bukan published by a private/commercial publisher.

Artikel ilmiah adalah suatu public good dan karenanya harus dikelola secara independen dari hasrat komersial. Editor dan publisher idealis pasti meyakini bahwa setiap profesor willing to publish their work for free because of the prestige of certain publications.

Hanya saja situasi di Indonesia tidak mudah. Ukuran karir dan integritas akademik sedang keruh, penuh sesak indikator administrasi, bukan substansi.

Artikel asal terbit di jurnal terindeks Scopus sudah dianggap setara dengan capaian akademik tinggi, bereputasi tanpa audit memadai. Kita masih di sini.

Hotel Universitas Hasanuddin, Makassar
Minggu sore gerimis, 19 Oktober 2025.

Penulis : Prof Masduki

Editor : Suluh NTB Editor

Berita Terkait

NARASI: Wakil Wali Kota Surabaya Diusulkan Dicopot, Di Persimpangan Etika Pejabat, Akurasi Informasi, dan Sensitivitas Sosial
NARASI: Ketika Humor Kehabisan Argumen
NARASI: Transparansi Seleksi KPID Kalbar dan Hak Publik untuk Tahu
NARASI: Menjemput UNRAM Unggul Global, Visi Progresif Prof Muhamad Ali Menuju Indonesia Emas 2045
Skandal“PROFESOR KEMASAN”: Saat Ilmu Pengetahuan Disajikan dengan Harga Eceran 1,5 Miliar
Terimakasih Prof Ali
Membaca Visi Global Prof Muhamad Ali: Rektor Masa Depan yang Menjawab Tantangan Transformasi Universitas Mataram
Prof. Ali dan Cerita ‘Kuda Hitam’ di Panggung Suksesi Rektor Unram

Berita Terkait

Selasa, 6 Januari 2026 - 22:53 WIB

NARASI: Wakil Wali Kota Surabaya Diusulkan Dicopot, Di Persimpangan Etika Pejabat, Akurasi Informasi, dan Sensitivitas Sosial

Senin, 5 Januari 2026 - 18:51 WIB

NARASI: Ketika Humor Kehabisan Argumen

Selasa, 30 Desember 2025 - 10:18 WIB

NARASI: Transparansi Seleksi KPID Kalbar dan Hak Publik untuk Tahu

Minggu, 14 Desember 2025 - 20:35 WIB

NARASI: Menjemput UNRAM Unggul Global, Visi Progresif Prof Muhamad Ali Menuju Indonesia Emas 2045

Selasa, 2 Desember 2025 - 16:01 WIB

Skandal“PROFESOR KEMASAN”: Saat Ilmu Pengetahuan Disajikan dengan Harga Eceran 1,5 Miliar

Berita Terbaru