Sebuah nyawa melayang. Beberapa orang mengalami luka berat dan ringan. Bangunan di kawasan Tanah Kosong porak-poranda akibat amuk massa.
Apa pun latar belakangnya, ketika ada nyawa yang hilang, tidak ada pihak yang benar-benar bisa disebut menang.
Bagi warga Jakarta, terutama yang mengenal kawasan Matraman Dalam, Jalan Tambak, Jalan Talang, Berlan, hingga Manggarai, bentrokan seperti ini memang bukan cerita baru.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sayangnya, ia seperti film lama yang diputar ulang. Pemerannya boleh berganti, tapi alurnya hampir selalu sama: cekcok, emosi, massa berkumpul, lalu batu beterbangan lebih cepat daripada akal sehat.
Peristiwa kemarin disebut-sebut dipicu oleh suara knalpot yang berisik, lalu ada teguran dari pelanggan warung nasi uduk.
Kalau benar begitu, rasanya sulit dipercaya sebuah kampung bisa meledak hanya gara-gara knalpot. Knalpot mungkin hanya korek apinya, sementara tumpukan kayu keringnya sudah lama menumpuk.
Di media sosial beredar berbagai cerita bahwa lokasi yang diserbu sering menjadi tempat berkumpul dan menimbulkan keramaian hingga larut malam. Namun, hal itu masih sebatas informasi yang beredar dan tentu perlu dibuktikan oleh aparat.
Jangan sampai media sosial menjadi hakim yang menjatuhkan vonis lebih cepat daripada proses penyelidikan.
Yang jelas, kalau sebuah lingkungan sudah lama menyimpan rasa jengkel, sedikit percikan saja bisa berubah menjadi kobaran api.
Itulah mengapa penyelesaian konflik tidak cukup hanya dengan menangkap pelaku bentrokan. Akar persoalannya juga harus dicari dan diselesaikan.
Lucunya, orang Indonesia ini kadang unik. Saat masih adem, saling senyum. Begitu emosi datang, batu yang tadinya buat ganjal gerobak mendadak berubah fungsi menjadi “alat komunikasi”.
Padahal kalau tenaga itu dipakai gotong royong menambal jalan, mungkin jalannya sudah lebih mulus daripada hubungan antartetangga.
Hukum harus berjalan tegas kepada siapa pun yang melakukan pengrusakan, pembakaran, maupun kekerasan.
Tidak boleh ada kelompok yang merasa kebal hanya karena jumlahnya banyak. Sebab negara tidak boleh kalah oleh massa, dan masyarakat juga tidak boleh kalah oleh rasa takut.
Semoga ini menjadi pelajaran bahwa kerukunan jauh lebih murah daripada biaya membangun kembali rumah yang terbakar, mengobati korban yang terluka, apalagi mengembalikan nyawa yang telah pergi.
Karena setelah amarah reda, yang tersisa biasanya hanya penyesalan… dan pertanyaan klasik: “Sebenarnya tadi kita ribut demi apa?”
Penulis : Wiedmust
Editor : Suluh NTB Editor










































