SULUHNTB.COM – Pahlawan Nasional NTB kembali bertambah. Pemerintah RI resmi menetapkan Sultan Muhammad Salahuddin, penguasa ke-14 Kesultanan Bima, sebagai Pahlawan Nasional. Keputusan ini memicu rasa haru, bangga, sekaligus syukur mendalam dari masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB).
Penganugerahan tersebut menandai pengakuan negara atas kontribusi besar sang Sultan dalam dunia pendidikan serta diplomasi yang menghindarkan Bima dari konflik di masa penjajahan.
Sultan Salahuddin dikenang bukan hanya sebagai pemimpin adat, melainkan tokoh pembaharu yang membuka akses belajar bagi rakyatnya melalui pendirian sekolah-sekolah lintas jenjang. Ia juga terkenal memberikan beasiswa bagi masyarakat kurang mampu.
Tidak hanya itu, berkat kemampuan diplomatiknya yang kuat, hubungan Bima dengan Jepang maupun Belanda dapat terjaga, sehingga wilayahnya terhindar dari gejolak perang yang melanda banyak daerah lain di Indonesia. Peran gandanya sebagai pembina pendidikan dan negosiator ulung membuat pemerintah menganugerahkan dua gelar sekaligus: Pahlawan Pendidikan dan Pahlawan Diplomasi.
Gubernur NTB, Dr. Lalu Muhamad Iqbal, menegaskan bahwa penetapan ini bukan inisiatif keluarga kesultanan, tetapi dorongan masyarakat NTB yang ingin sejarah daerah mereka mendapat tempat terhormat di panggung nasional.
“Penganugerahan ini bukan permintaan keluarga. Ini dorongan kita semua, masyarakat NTB, yang ingin perjuangan beliau diakui negara,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Iqbal menekankan bahwa gelar Pahlawan Pendidikan dan Diplomasi yang disandang Sultan Salahuddin merupakan tanggung jawab moral generasi NTB untuk terus melahirkan pelajar dan tokoh tangguh.
Ia bahkan telah menugaskan Kepala Dinas Pendidikan NTB, Lalu Hamdi, M.Si., menyusun desain foto resmi dua Pahlawan Nasional asal NTB, yakni Maulanasyaikh dan Sultan Salahuddin, serta membuat ringkasan sejarah mereka agar dipasang di seluruh ruang belajar SD, SMP, hingga SMA sederajat di NTB.
“Anak-anak kita harus tahu bahwa kita bukan daerah tanpa kontribusi. Kita ikut memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan,” tegasnya.
Di tengah acara syukuran penyambutan gelar Pahlawan Nasional di NTB, perwakilan keluarga Kesultanan Bima, Hj. Vera Amelia, menyampaikan rasa terima kasih yang tidak terhingga kepada semua pihak yang telah mengawal proses panjang hingga gelar tersebut resmi diberikan oleh pemerintah pusat.
“Terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada seluruh pihak yang telah membantu hingga Almarhum Sultan Muhammad Salahuddin dapat dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Secara khusus kepada Bapak Gubernur yang tanpa henti menyuarakan perjuangan ini di tingkat pusat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa perjuangan keluarga dan masyarakat yang berlangsung lebih dari dua dekade akhirnya membuahkan hasil. Gelar tersebut, tegasnya, bukan hanya milik keluarga Kesultanan Bima, tetapi kehormatan seluruh masyarakat Bima dan NTB yang sejak lama berharap jasa sang Sultan diakui negara.
Dalam sambutannya, Gubernur Iqbal juga memaparkan beberapa tokoh asal NTB yang menurutnya masih layak diusulkan menjadi Pahlawan Nasional.
Nama-nama tersebut antara lain Sultan Muhammad Tajul Arifin Sirajudin dari Dompu, pejuang pengasingan Lalu Ismail Dea Malela yang pernah dikirim ke Cape Town, pendidik pejuang Belanggu Aga Dea Tuan dari Sumbawa, Lalu Manambai Abdulkadir yang dikenal sebagai kapten kapal selam pertama Indonesia, hingga ulama pejuang Tuan Guru Saleh Hambali dari Lombok.
Menurutnya, daftar tokoh besar tersebut membuktikan bahwa meski NTB terdiri dari dua pulau, daerah ini memiliki deretan pejuang yang tidak kalah kontribusinya dibanding wilayah lain di Indonesia. Ia menambahkan bahwa sejarah NTB pun perlu diluruskan, terutama mengenai narasi tiga setengah abad penjajahan.
“Belanda secara resmi masuk ke Lombok pada tahun 1894. Jadi NTB tidak dijajah tiga setengah abad bahkan tidak sampai satu abad. Namun karena sejarah Indonesia dianggap satu kesatuan, angka tiga setengah abad tetap digunakan secara nasional,” urainya.
Klarifikasi itu disampaikan agar generasi muda memahami fakta sejarah yang lebih akurat, termasuk konteks perjuangan para tokoh lokal yang tidak selalu sama dengan daerah lain di Nusantara.
Dengan bertambahnya Sultan Salahuddin sebagai Pahlawan Nasional, NTB kini memiliki dua pahlawan yang mewakili dua pulau besar di wilayah tersebut: Maulanasyaikh yang tumbuh dari tradisi Lombok dan Sultan Salahuddin dari tanah Sumbawa. Keduanya menjadi simbol kekuatan moral, ilmu, dan keteladanan yang perlu diwariskan kepada masyarakat hari ini.
Acara penghormatan ditutup dengan doa bagi keluarga Sultan Salahuddin agar selalu diberi kesehatan, kekuatan, serta kemampuan menjaga nilai perjuangan sang pahlawan, khususnya dalam bidang pendidikan yang menjadi warisan terbesarnya.
Penganugerahan ini bukan hanya kebanggaan sejarah, tetapi juga momentum kebangkitan identitas budaya dan intelektual masyarakat NTB—bahwa daerah ini telah lama melahirkan para pemimpin berintegritas yang layak dikenang dalam sejarah nasional. ***
Penulis : SN-07
Editor : SuluhNTB Editor






























