Tidur di Kursi Demi Jamaah: Kisah Mengharukan Petugas Haji Asal NTB di Makkah

Sabtu, 23 Mei 2026 - 08:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SULUHNTB.COM – Di antara ribuan jamaah yang memadati Kota Suci Makkah, ada wajah-wajah yang mungkin jarang tersorot kamera.

Mereka tidak mengenakan pakaian ihram, tidak pula sibuk mengejar waktu thawaf atau sa’i. Namun tanpa mereka, perjalanan ibadah haji bisa menjadi jauh lebih berat.

Mereka adalah para petugas kesehatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di Kloter 9 Jamaah Haji Lombok Timur, dua nama menjadi tumpuan ratusan jamaah: Dr. Fuji Nurhidayati dan Yudi Permansyah.

Satu seorang dokter dengan tutur lembut namun tegas. Satunya lagi perawat IGD yang sigap berlari kapan saja ketika telepon jamaah berdering di tengah malam.

Rabu, 20 Mei 2026, suasana di Lulua Hotel Makkah tampak berbeda. Sejak pagi hingga sore, Dr. Fuji tak berhenti bergerak. Dari lantai 16, lalu naik ke lantai 17, kemudian berpindah lagi ke lantai 18.

Langkahnya nyaris tanpa jeda.

Di setiap ruangan, ratusan jamaah menunggu arahan kesehatan menjelang Armuzna — fase puncak ibadah haji yang dikenal paling berat secara fisik.

Sebanyak 443 jamaah Kloter 9 Lombok Timur berkumpul bersama ketua rombongan dan ketua regu. Mereka mendengarkan dengan serius setiap pesan yang disampaikan dokter yang sehari-hari bertugas di LMC Lombok Timur tersebut.

Maklum, cuaca Makkah sedang tidak ramah. Panas menyengat, udara kering, dan aktivitas ibadah yang padat menjadi kombinasi yang sangat menguras tenaga, terutama bagi jamaah lanjut usia.

Dengan suara tenang, Dr. Fuji satu per satu menjelaskan apa saja yang wajib dibawa jamaah menuju Armuzna. Mulai dari kain ihram cadangan, pakaian ganti, makanan ringan, botol minum, hingga perlengkapan sederhana namun vital seperti payung, kacamata hitam, oralit, semprotan wajah, dan canebo.

Namun dari semua pesan itu, ada satu hal yang paling sering ia ulang.

Baca Juga :  Lebih Dekat dengan Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan yang Gantikan Sri Mulyani

“Air minum jangan pernah ditinggal,” katanya mengingatkan.

Baginya, dehidrasi adalah ancaman paling nyata di Tanah Suci. Banyak jamaah yang awalnya terlihat sehat mendadak linglung, lemas, bahkan kehilangan orientasi hanya karena kurang cairan.

“Ada jamaah yang tiba-tiba menjadi linglung bahkan pikun karena kurang minum. Dehidrasi di sini sangat cepat terjadi,” ujar Dr. Fuji.

Ia memahami betul bagaimana kerasnya cuaca Makkah terhadap tubuh jamaah asal Indonesia yang terbiasa dengan udara tropis lembap. Di hotel berpendingin udara, tubuh mudah kehilangan keseimbangan. Batuk pilek dan infeksi saluran pernapasan menjadi keluhan paling banyak ditemui.

“Kadang sudah diberi obat, tetapi batuknya tetap berat karena pengaruh cuaca, ruangan ber-AC, kurang sinar matahari, dan kurang minum,” tuturnya.

Di balik ketegasan seorang dokter, ternyata tersimpan hati yang mudah tersentuh.

Saat melihat antusias jamaah yang mendengarkan arahannya dengan serius, mata Dr. Fuji mendadak berkaca-kaca. Ia terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan penjelasan. Ada rasa haru yang sulit disembunyikan.

Mungkin ia membayangkan beratnya perjuangan para jamaah lansia yang datang dari kampung-kampung di Lombok Timur demi memenuhi panggilan Allah. Atau mungkin juga karena ia sadar, keselamatan ratusan jamaah itu kini ikut berada di pundaknya.

Namun Dr. Fuji tidak sendiri.

Di sampingnya selalu ada Yudi Permansyah, perawat asal IGD Sumbawa Besar yang menjadi partner setia menjaga jamaah siang dan malam.

Dalam rutinitas haji yang nyaris tanpa jeda, keduanya hampir tidak pernah benar-benar menikmati waktu istirahat.

“Terkadang kami hanya tidur di kursi. Kalau pun sempat tidur sebentar, HP tidak pernah dimatikan. Jam berapa pun jamaah menelepon, kami langsung turun membantu,” ungkap Dr. Fuji.

Bagi Yudi, menjadi petugas kesehatan haji adalah pengalaman yang penuh ujian kesabaran. Jika di Indonesia proses penanganan pasien bisa cepat, di Tanah Suci situasinya jauh berbeda.

Baca Juga :  Lebih Dekat dengan Adriyan Wahyudi: Ketua HMI Komisariat Lafran Pane Unram

“Kalau di Indonesia merujuk pasien mungkin cepat, tapi di sini satu pasien saja bisa sampai delapan jam prosesnya. Itu tantangan terberat,” katanya.

Delapan jam bukan waktu yang singkat. Apalagi ketika kondisi pasien membutuhkan penanganan segera.

Di tengah keterbatasan sistem dan padatnya layanan kesehatan haji internasional, petugas kesehatan Indonesia dituntut tetap tenang sekaligus sigap.

Meski demikian, Yudi mengaku semua lelah itu terbayar oleh pengalaman yang tak ternilai.

“Manisnya kami mendapat pengalaman baru yang tidak akan pernah terlupakan,” ujarnya sambil tersenyum.

Ia berharap ke depan pelayanan kesehatan jamaah haji bisa semakin diperkuat. Menurutnya, jumlah tenaga kesehatan perlu ditambah agar pelayanan lebih maksimal.

“Harusnya satu dokter didampingi dua perawat seperti kloter lain,” katanya.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap konsumsi jamaah. Sebab ada beberapa jamaah yang kondisinya sudah terlalu lemah hingga hanya mampu mengonsumsi bubur.

Di tengah lautan manusia yang memadati Makkah, kisah Dr. Fuji dan Yudi mungkin hanyalah fragmen kecil dari penyelenggaraan ibadah haji. Namun dari tangan-tangan seperti merekalah banyak jamaah tetap bisa berdiri kuat menjalankan rukun Islam kelima.

Mereka bukan hanya tenaga kesehatan.

Mereka adalah penjaga para tamu Allah.

Saat sebagian orang terlelap usai beribadah, mereka tetap terjaga. Menahan kantuk, memeriksa kondisi jamaah, menjawab telepon darurat, dan berlari kapan saja ketika ada yang membutuhkan pertolongan.

Di balik khusyuknya ibadah ribuan jamaah Indonesia di Tanah Suci, ada pengabdian yang bekerja dalam diam.

Dan di Kloter 9 Lombok Timur, pengabdian itu bernama Dr. Fuji Nurhidayati dan Yudi Permansyah.***

 

 

 

Penulis : Diendy

Editor : Suluh NTB Editor

Berita Terkait

Lebih Dekat dengan Adriyan Wahyudi: Ketua HMI Komisariat Lafran Pane Unram
Erick Thohir Menpora Baru di Era Presiden Prabowo
Lebih Dekat dengan Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan yang Gantikan Sri Mulyani
Ahmad Ikliludin: Sang Pendobrak, Mengusung Visi Kepemimpinan Kolektif Kolegial untuk PWI NTB Berkualitas

Berita Terkait

Sabtu, 23 Mei 2026 - 08:12 WIB

Tidur di Kursi Demi Jamaah: Kisah Mengharukan Petugas Haji Asal NTB di Makkah

Jumat, 9 Januari 2026 - 10:30 WIB

Lebih Dekat dengan Adriyan Wahyudi: Ketua HMI Komisariat Lafran Pane Unram

Rabu, 17 September 2025 - 22:50 WIB

Erick Thohir Menpora Baru di Era Presiden Prabowo

Selasa, 16 September 2025 - 21:09 WIB

Lebih Dekat dengan Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan yang Gantikan Sri Mulyani

Sabtu, 2 Agustus 2025 - 10:53 WIB

Ahmad Ikliludin: Sang Pendobrak, Mengusung Visi Kepemimpinan Kolektif Kolegial untuk PWI NTB Berkualitas

Berita Terbaru

NARASI

Rupiah Lemah, Indonesia Bisa Maju?

Kamis, 21 Mei 2026 - 09:57 WIB

NARASI

Bangkitlah Indonesia, atau Sekadar Ramai di Media Sosial?

Rabu, 20 Mei 2026 - 10:54 WIB