SULUHNTB.COM – Capaian Rasio Gini NTB yang semula ditargetkan terealisasi pada tahun 2029 dalam dokumen perencanaan daerah, kini disebut telah tercapai lebih cepat pada 2025. Data terbaru yang dirilis Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Barat (BPS NTB) menunjukkan angka ketimpangan pembangunan di Provinsi Nusa Tenggara Barat berada dalam rentang target RPJMD 2025–2029.
Pengamat kebijakan publik, Ir. Lalu Muh. Kabul, M.AP, menjelaskan bahwa Rasio Gini merupakan indikator utama untuk mengukur tingkat ketimpangan distribusi pendapatan dan hasil pembangunan di suatu wilayah.
“Jika Rasio Gini mengalami penurunan menuju angka 0; maka pembangunan dinyatakan semakin merata; sebaliknya jika meningkat menuju angka 1; maka pembangunan dinyatakan semakin timpang”, ungkapnya.
Ia memaparkan bahwa Rasio Gini memiliki rentang nilai antara 0 hingga 1. Angka yang semakin mendekati nol menunjukkan distribusi pendapatan yang lebih adil, sementara angka mendekati satu menandakan ketimpangan yang semakin tajam.
Data BPS NTB: Dinamika Rasio Gini 2024–2025
Merujuk data resmi BPS NTB, Rasio Gini NTB pada Maret 2024 tercatat sebesar 0,361. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 0,364 pada September 2024. Tren kenaikan berlanjut hingga Maret 2025 yang mencapai 0,369.
Namun pada September 2025, Rasio Gini kembali turun menjadi 0,364.
Menurut Kabul, angka 0,364 pada September 2025 tersebut sudah berada dalam kisaran target yang ditetapkan dalam RPJMD NTB 2025-2029, yakni antara 0,357 hingga 0,369.
“Artinya capaian Rasio Gini NTB sebesar 0,364 pada September 2025 berada pada kisaran angka 0,357 hingga 0,369 sebagaimana ditargetkan pada tahun 2029 dalam RPJMD 2025-2029. Dengan perkataan lain, Rasio Gini yang seharusnya ditargetkan untuk dicapai pada tahun 2029 berhasil dicapai lebih awal yakni pada September 2025”, tambahnya.
Capaian ini dinilai sebagai sinyal positif dalam upaya pemerataan pembangunan dan pengurangan ketimpangan ekonomi di NTB.
Indikasi Percepatan Pemerataan Pembangunan
Lebih jauh, Kabul menilai capaian Rasio Gini NTB tersebut mengindikasikan adanya percepatan pemerataan pembangunan di bawah kepemimpinan Iqbal-Dinda.
Menurutnya, pergerakan angka Rasio Gini yang stabil dalam rentang target RPJMD menunjukkan adanya kebijakan yang efektif dalam mendorong distribusi manfaat pembangunan secara lebih merata.
“Tampaknya percepatan dimaksud berkaitan erat dengan pengembangan desa berdaya yang merupakan implementasi dari Visi Iqbal-Dinda: NTB Makmur Mendunia”, pungkasnya.
Program pengembangan desa berdaya yang dimaksud dinilai menjadi salah satu strategi penting dalam memperkecil kesenjangan antarwilayah, terutama antara kawasan perkotaan dan perdesaan. Melalui penguatan ekonomi lokal, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta dukungan terhadap sektor UMKM dan pertanian, pemerataan dinilai semakin terasa di tingkat akar rumput. ***
Penulis : SN-07
Editor : SuluhNTB Editor






























