Bayangkan ini: dalam setetes air, miliaran bakteri ber seliweran. Mereka terlihat acak dan tak beraturan, tapi sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang revolusioner – berkomunikasi. Bukan dengan suara atau teks, melainkan dengan sinyal kimiawi yang cerdas.
Inilah quorum sensing – mekanisme dimana bakteri saling berkirim pesan, menghitung jumlah, dan pada titik tertentu, mereka bertindak serentak bak satu organisme raksasa. Lalu apa hubungannya dengan rapat dosen, kurikulum, atau visi kampus kita? Segalanya.
Ketika Bakteri Mengajarkan Arti Kolaborasi Sejati
Kita sering menganggap bakteri sebagai makhluk primitif, tapi dalam hal kolaborasi, mereka justru lebih maju daripada banyak organisasi modern. Mari kita telisik lebih dalam.
Setiap bakteri mengeluarkan autoinducer semacam pesan grup kimiawi. Makin banyak anggota, makin kuat sinyalnya. Ketika mencapai ambang batas tertentu, mereka langsung berkoordinasi untuk aksi massal. Analoginya, visi kampus seharusnya berfungsi seperti autoinducer disebarkan terus menerus oleh pimpinan, di ruang rapat, di koridor, di kelas.
Sayangnya, dalam praktiknya, sinyal di kampus seringkali menjadi noise, tidak jelas, atau bertabrakan. Akibatnya, tidak pernah tercapai quorum untuk bergerak bersama.
Bakteri memahami prinsip “strength in numbers” dengan baik. Sendirian, mereka lemah. Bersama, mereka bisa membentuk biofilm benteng pertahanan yang tak tertembus. Pertanyaannya, sudahkah fakultas dan jurusan di kampus kita membangun biofilm bersama?
Atau justru sibuk membangun kerajaan-kerajaan kecil? Inovasi besar selalu lahir dari kolaborasi lintas disiplin – teknik dengan kedokteran, sastra dengan ekonomi. Namun sayang, ego sektoral seringkali lebih kuat daripada naluri kolaborasi.
Tantangan Nyata di Dunia Akademik
“Tapi kami sudah sering rapat koordinasi!” atau “Visi kami sudah jelas di website!” mungkin menjadi bantahan yang sering kita dengar. Namun faktanya, banyak kampus terjebak dalam illusion of progress: banyak meeting, banyak dokumen, tapi sedikit aksi nyata yang terkoordinasi. Ini mirip dengan koloni bakteri dimana setiap individu mengeluarkan sinyal, tapi tidak pernah cukup kuat untuk memicu aksi kolektif. Hasilnya? Stagnasi.
Ketika lingkungan berubah drastis, bakteri tidak panik. Mereka langsung mengirim sinyal darurat dan mengubah strategi kolektif. Renungkan, ketika dunia dilanda AI, disruptsi digital, dan perubahan iklim, apakah kampus kita bereaksi sebagai satu tim yang solid? Atau justru seperti bakteri yang kebingungan – masing-masing jurusan sibuk dengan solusinya sendiri?
Refleksi Penutup: Sudah Cukup Cerdaskah Kampus Kita?
Bakteri, makhluk tanpa otak, mampu membangun sistem kolaborasi yang sophisticated. Mereka punya mekanisme komunikasi yang efektif, kesadaran kolektif, dan kemampuan beradaptasi.
Sementara kita, makhluk berakal budi, seringkali terjebak dalam ego sektoral (“Ini urusan fakultas kami!”), paralysis by analysis (terlalu banyak rapat, terlalu sedikit eksekusi), dan initiative fatigue (terlalu banyak program, tidak ada yang tuntas).
Pertanyaan penutup yang menantang: jika bakteri saja bisa mencapai tujuan besar melalui kolaborasi yang cerdas, mengapa kita – dengan semua gelar profesor, doktor, dan IPK tinggi – seringkali gagal melakukannya?
Mungkin sudah waktunya kita berhenti menganggap diri sebagai makhluk superior, dan mulai belajar dari “guru” yang paling tak terduga: bakteri. Mereka sudah mempraktikkan seni kolaborasi selama miliaran tahun. Sekarang giliran kita. ***
Penulis : Dr Faturahman
Editor : SuluhNTB Editor






























