11 atau 23 Rakaat: Surga Tidak Menghitung dengan Kalkulator

Catatan Ramadhan Wiedmust

Jumat, 27 Februari 2026 - 13:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Ramadan baru masuk hitungan hari. Kurma belum habis satu kilo, tapi grup WA sudah panas. Bukan soal harga cabai, bukan soal takjil ludes. Ini soal rakaat.

Sebelas atau dua puluh tiga?
Seolah-olah pintu surga dijaga satpam yang bawa kalkulator Casio. Kurang satu rakaat, maaf ya Pak, geser dulu ke antrean kiri.

Padahal sejarahnya terang.
Riwayat dari Aisyah dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim menyebut Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah shalat malam lebih dari 11 rakaat (termasuk witir). Ini yang jadi pegangan kubu “11”.

Di sisi lain, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, umat Islam melaksanakan tarawih berjamaah 20 rakaat plus 3 witir. Riwayatnya bisa ditelusuri dalam Al-Muwatta karya Imam Malik. Ini fondasi kubu “23”.

Dua-duanya punya pijakan. Dua-duanya ada sanad. Dua-duanya bukan karangan panitia Ramadan RW 03.

Tapi yang lucu, kita sering lebih semangat menghitung rakaat orang lain ketimbang menghitung kekhusyukan sendiri. Rakaatnya 23, tapi pikirannya 46 ke mana-mana. Rakaatnya 11, tapi setelah salam lanjut 99 kali gibah.

Seolah-olah inti ibadah itu spreadsheet, bukan hati.
Mayoritas mazhab memang mengamalkan 20 rakaat. Sebagian ulama memilih 8. Bahkan di Indonesia, dua model ini hidup berdampingan. Masjid A sebelas, masjid B dua puluh tiga. Langit tidak roboh. Bulan tetap sabit. Malaikat tidak salah kirim pahala.

Masalahnya bukan pada angka. Masalahnya pada ego.
Kita ini kadang seperti pepatah baru: “api kecil dibesarkan, bara besar dikipasi.” Hal yang fleksibel dibuat kaku. Yang sunnah diperlakukan seperti pasal undang-undang.

Padahal Nabi bersabda, shalat malam itu dua-dua rakaat. Tidak disebutkan batas maksimalnya. Artinya, ruangnya luas. Islam tidak sesempit spanduk debat.
Ironinya, yang 23 kadang mencibir 11 sebagai terlalu ringkas. Yang 11 menuding 23 sebagai tak sesuai sunnah. Dua-duanya merasa paling dekat dengan dalil, tapi sama-sama jauh dari adab.

Tarawih itu latihan sabar, bukan lomba benar.
Kalau 11 membuatmu lebih khusyuk, silakan. Kalau 23 membuatmu lebih mantap, lanjutkan. Kalau dua-duanya masih membuatmu sibuk menghakimi, mungkin yang perlu ditambah bukan rakaatnya tapi ilmunya.

Karena pada akhirnya, Allah tidak bertanya: “Kenapa tidak 23?” Dan juga tidak bertanya: “Kenapa tidak 11?”
Yang ditanya: ikhlas atau tidak?

Ramadan ini, mari kita kurangi hitung-hitungan orang lain. Fokus saja pada diri sendiri. Jangan sampai tarawihnya panjang, tapi toleransinya pendek.

Beda rakaat itu biasa. Beda akhlak, itu yang bahaya.***

Penulis : SN-02

Editor : Suluh NTB Editor

Berita Terkait

NARASI: Wakil Wali Kota Surabaya Diusulkan Dicopot, Di Persimpangan Etika Pejabat, Akurasi Informasi, dan Sensitivitas Sosial
NARASI: Ketika Humor Kehabisan Argumen
NARASI: Transparansi Seleksi KPID Kalbar dan Hak Publik untuk Tahu
NARASI: Menjemput UNRAM Unggul Global, Visi Progresif Prof Muhamad Ali Menuju Indonesia Emas 2045
Skandal“PROFESOR KEMASAN”: Saat Ilmu Pengetahuan Disajikan dengan Harga Eceran 1,5 Miliar
Terimakasih Prof Ali
Membaca Visi Global Prof Muhamad Ali: Rektor Masa Depan yang Menjawab Tantangan Transformasi Universitas Mataram
Prof. Ali dan Cerita ‘Kuda Hitam’ di Panggung Suksesi Rektor Unram

Berita Terkait

Jumat, 27 Februari 2026 - 13:15 WIB

11 atau 23 Rakaat: Surga Tidak Menghitung dengan Kalkulator

Selasa, 6 Januari 2026 - 22:53 WIB

NARASI: Wakil Wali Kota Surabaya Diusulkan Dicopot, Di Persimpangan Etika Pejabat, Akurasi Informasi, dan Sensitivitas Sosial

Senin, 5 Januari 2026 - 18:51 WIB

NARASI: Ketika Humor Kehabisan Argumen

Selasa, 30 Desember 2025 - 10:18 WIB

NARASI: Transparansi Seleksi KPID Kalbar dan Hak Publik untuk Tahu

Minggu, 14 Desember 2025 - 20:35 WIB

NARASI: Menjemput UNRAM Unggul Global, Visi Progresif Prof Muhamad Ali Menuju Indonesia Emas 2045

Berita Terbaru