SULUHNTB.COM – Upaya penguatan ekonomi lokal berbasis masyarakat kembali menemukan momentumnya melalui Kelas Kewirausahaan yang dirangkaikan dengan seminar, pelatihan, serta penyampaian akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Mahasiswa Masbagik (IKMM) pada Minggu, 21 Desember 2025.
Kegiatan ini berlangsung di Aula Kantor Desa Paokmotong, Kecamatan Masbagik, dan diikuti secara langsung oleh 50 peserta masyarakat Paokmotong, yang merupakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Berbeda dari kegiatan kewirausahaan yang bersifat seremonial, kelas ini dirancang sebagai forum ilmiah-aplikatif yang menghubungkan tiga simpul penting ekosistem UMKM, yakni penguatan kapasitas usaha, akses pasar, dan pembiayaan formal.
Pendekatan ini menunjukkan kesadaran kritis bahwa persoalan UMKM tidak dapat diselesaikan secara parsial, melainkan harus ditempatkan dalam kerangka kebijakan yang terintegrasi dan berbasis data.
Penguatan Usaha Mikro: Dari Subsistensi ke Daya Saing
Narasumber pertama, Kepala Bidang Pemberdayaan UKM Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Lombok Timur, Zulkarnain, menegaskan bahwa tantangan utama usaha mikro di tingkat desa bukan semata keterbatasan modal, tetapi juga lemahnya manajemen usaha, legalitas, dan inovasi produk.
Dalam paparannya, ia mendorong pelaku UMKM untuk tidak berhenti pada pola usaha subsisten, melainkan mulai mengarah pada penguatan struktur usaha yang berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah daerah terus mendorong transformasi UMKM melalui program pendampingan, fasilitasi Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi produk, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Menurutnya, kelas kewirausahaan semacam ini memiliki nilai strategis karena mempertemukan pelaku usaha secara langsung dengan pemangku kebijakan, sehingga kebijakan tidak lahir di ruang birokrasi semata, tetapi berangkat dari realitas lapangan.
Akses Pasar dan Kebijakan Perdagangan: Titik Lemah UMKM Desa
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Lombok Timur, Hadi Fathurrahman, mengangkat isu struktural yang kerap dihadapi UMKM desa, yakni keterbatasan akses pasar.
Ia menekankan bahwa banyak UMKM mampu berproduksi dengan baik, namun gagal berkembang karena tidak terhubung dengan sistem distribusi dan pasar yang lebih luas.
Dalam konteks ini, pemerintah daerah berupaya membuka ruang bagi UMKM lokal untuk masuk ke pasar formal melalui kebijakan perdagangan yang berpihak, promosi produk lokal, serta pemanfaatan platform digital. Namun demikian, ia juga menyampaikan catatan kritis bahwa peningkatan akses pasar harus diimbangi dengan konsistensi kualitas produk dan keberlanjutan pasokan agar UMKM tidak hanya masuk pasar, tetapi mampu bertahan dan bersaing.
Akses KUR: Literasi Keuangan sebagai Kunci
Aspek pembiayaan disampaikan oleh Pimpinan Cabang Pembantu Bank BRI KCP Masbagik, Miecko W. Gunawan, yang memaparkan secara teknis skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi UMKM.
Ia menegaskan bahwa KUR merupakan instrumen negara untuk mendorong inklusi keuangan, namun keberhasilannya sangat ditentukan oleh literasi dan kesiapan pelaku usaha.
Ia menjelaskan persyaratan, mekanisme pengajuan, serta pentingnya pencatatan keuangan sederhana agar pembiayaan tidak menjadi beban, melainkan alat pengungkit pertumbuhan usaha.
Menurutnya, kegiatan pelatihan yang dikombinasikan dengan penyampaian akses KUR seperti ini sangat efektif karena langsung menjawab kebutuhan konkret masyarakat.
Data UMKM sebagai Fondasi Kebijakan
Salah satu poin strategis dari kegiatan ini adalah penyerahan daftar hadir (absensi) peserta kelas kewirausahaan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur.
Data tersebut akan digunakan sebagai bagian dari pendataan UMKM daerah, sehingga pelaku usaha di Paokmotong dapat masuk ke dalam basis data resmi UMKM Lombok Timur.
Langkah ini dinilai krusial dan progresif, karena banyak UMKM desa selama ini berada di luar radar kebijakan akibat tidak terdata secara formal.
Dengan masuknya data peserta ke dalam sistem pemerintah daerah, peluang untuk mendapatkan pendampingan, akses program, dan pembiayaan menjadi lebih terbuka dan terukur.
Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Timur, Drs. H. Muhammad Juaini Taofik, M.AP. dalam pesan dan kesannya menyampaikan apresiasi atas inisiatif IKMM Masbagik yang dinilai mampu menjembatani kepentingan masyarakat, mahasiswa, dan pemerintah.
“Kelas kewirausahaan ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi tidak selalu harus dimulai dari proyek besar, tetapi bisa lahir dari ruang-ruang edukasi di desa.
Wirausaha orang Masbagik dikenal ulet, mandiri, dan adaptif. Jika potensi ini terus diperkuat dengan kebijakan yang tepat, Masbagik dapat menjadi salah satu pusat pertumbuhan UMKM di Lombok Timur,” ungkapnya.
Ia menilai karakter kewirausahaan masyarakat Masbagik sebagai modal sosial yang sangat berharga bagi pembangunan ekonomi daerah.
Ketua Umum Ikatan Keluarga Mahasiswa Masbagik, Muhamad Dicky Subagia menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk tanggung jawab intelektual dan sosial mahasiswa terhadap masyarakatnya sendiri.
“Kami percaya bahwa mahasiswa tidak hanya berperan di ruang akademik, tetapi juga harus hadir sebagai agen perubahan di tengah masyarakat. Kelas kewirausahaan ini adalah ikhtiar kami untuk mempertemukan ilmu, kebijakan, dan praktik agar masyarakat Masbagik semakin mandiri secara ekonomi,” tutupnya.
Ia berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan menjadi awal dari kolaborasi berkelanjutan antara mahasiswa, pemerintah, perbankan, dan pelaku usaha lokal.
Melalui penyelenggaraan kelas kewirausahaan ini, IKMM Masbagik menunjukkan peran strategis mahasiswa dalam membangun kesadaran kewirausahaan masyarakat secara ilmiah dan aplikatif.
Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas UMKM Paokmotong, memperluas akses pasar, serta meningkatkan inklusi pembiayaan, sehingga berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Masbagik secara berkelanjutan.
Kelas kewirausahaan yang dirangkaikan dengan seminar, pelatihan, dan akses KUR ini menegaskan pentingnya pendekatan holistik dalam pengembangan UMKM desa.
Melalui integrasi edukasi, kebijakan, pembiayaan, dan pendataan, kegiatan yang diinisiasi Ikatan Keluarga Mahasiswa Masbagik ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membuka jalan bagi UMKM Paokmotong untuk masuk ke dalam sistem ekonomi formal yang lebih inklusif dan berkelanjutan. ***
Penulis : Muhamad Dicky Subagia
Editor : SuluhNTB Editor






























