SULUHNTB.COM – Kelompok Pemerhati Sosial (KPS) sukses melaksanakan Pekan Bakti Sosial Mahasiswa (PBSM) 2026 selama delapan hari, mulai 22 hingga 29 Juni 2026, di Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara.
Kegiatan tersebut menjadi implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya bidang pengabdian kepada masyarakat, dengan melibatkan mahasiswa untuk hadir langsung memberikan edukasi, pendampingan, dan membantu mengidentifikasi persoalan yang dihadapi warga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
PBSM 2026 diawali dengan prosesi pembukaan dan pelepasan peserta yang dihadiri pihak kampus, jajaran pengurus KPS, pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan seluruh peserta.
Dalam sambutannya, panitia menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar agenda tahunan organisasi, melainkan ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan, membangun empati, dan memperkuat kepedulian sosial.
Selama sepekan pelaksanaan, para peserta tinggal dan berinteraksi langsung dengan masyarakat Desa Gumantar. Pendekatan tersebut dilakukan agar mahasiswa dapat memahami kondisi sosial, ekonomi, budaya, hingga potensi desa yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Berbagai program kerja dilaksanakan selama kegiatan berlangsung. Salah satunya adalah permainan dan aktivitas kebersamaan sebagai pendekatan kepada masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan bincang warga yang menjadi forum diskusi antara mahasiswa dan masyarakat. Melalui forum tersebut, peserta mendengarkan aspirasi, kebutuhan, serta berbagai persoalan yang dihadapi warga secara langsung.
Sebagai bentuk kontribusi di bidang pendidikan, mahasiswa juga menggelar sosialisasi pencegahan pernikahan usia anak. Program itu bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai dampak pernikahan dini terhadap kesehatan, pendidikan, kondisi sosial, dan masa depan generasi muda.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berharap tumbuh kesadaran bersama mengenai pentingnya memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk memperoleh pendidikan dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik sebelum memasuki jenjang pernikahan.
Persoalan pernikahan usia anak menjadi salah satu isu utama yang mendapat perhatian selama PBSM berlangsung.
Selain itu, peserta juga melaksanakan sosialisasi penyusunan produk hukum desa. Kegiatan tersebut menjadi bentuk pendampingan kepada pemerintah desa dalam memperkuat tata kelola pemerintahan melalui penyusunan regulasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Program tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk meningkatkan kualitas administrasi pemerintahan desa yang lebih tertib, transparan, dan akuntabel. Mahasiswa juga memberikan masukan terkait pentingnya produk hukum sebagai dasar penyelenggaraan pemerintahan desa yang efektif.
Dalam rangka mendukung pembangunan berbasis potensi lokal, peserta PBSM melaksanakan eksplorasi adat, budaya, dan potensi wisata Desa Gumantar. Kegiatan tersebut bertujuan mengidentifikasi berbagai potensi yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata maupun sumber peningkatan ekonomi masyarakat.
Mahasiswa kemudian memberikan sosialisasi mengenai pengembangan potensi lokal kepada masyarakat. Langkah tersebut diharapkan mampu mendorong warga mengelola sumber daya yang dimiliki secara mandiri dan berkelanjutan.
Menjelang berakhirnya kegiatan, seluruh peserta bersama masyarakat menggelar malam pisah kenang. Kegiatan itu dirangkai dengan makan bersama sebagai bentuk kebersamaan setelah sepekan menjalani proses pengabdian.
Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa berhasil mengidentifikasi sejumlah persoalan yang masih menjadi perhatian di Desa Gumantar.
Pada sektor infrastruktur, ditemukan beberapa akses jalan yang mengalami kerusakan dan menghambat mobilitas masyarakat.
Di sektor pelayanan dasar, sebagian masyarakat masih menghadapi keterbatasan akses terhadap air bersih. Sementara pada aspek tata kelola pemerintahan, masih diperlukan penguatan dalam penyusunan produk hukum desa yang mampu memberikan kepastian hukum dan mendukung efektivitas pemerintahan.
Di bidang sosial, mahasiswa juga menemukan bahwa pernikahan usia anak masih menjadi tantangan serius yang membutuhkan perhatian bersama. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi kualitas pendidikan, kesehatan reproduksi, hingga kesejahteraan generasi muda.
Selain itu, pemanfaatan potensi lokal yang dimiliki Desa Gumantar dinilai belum optimal. Karena itu, diperlukan pendampingan dan kolaborasi berbagai pihak agar potensi tersebut mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat.
Ketua Panitia PBSM 2026, Lalu Muhammad Daffa, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya seluruh rangkaian kegiatan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan program.
“Alhamdulillah, seluruh rangkaian Pekan Bakti Sosial Mahasiswa 2026 dapat terlaksana dengan lancar berkat kerja sama seluruh panitia, peserta, pemerintah desa, masyarakat, sponsor, media partner, serta semua pihak yang telah memberikan dukungan. Kami berharap kehadiran mahasiswa selama satu minggu ini mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, sekaligus menjadi pengalaman berharga bagi peserta dalam mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan. Semoga hasil dari kegiatan ini dapat menjadi awal dari kolaborasi yang berkelanjutan dalam membangun Desa Gumantar yang lebih maju dan mandiri,” ujarnya.
Ketua Umum Kelompok Pemerhati Sosial (KPS), Muhammad Gibran, menegaskan bahwa PBSM merupakan salah satu program unggulan organisasi. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga membentuk karakter mahasiswa agar memiliki kepedulian sosial yang tinggi.
“Pekan Bakti Sosial Mahasiswa merupakan bukti bahwa mahasiswa mampu menjadi agen perubahan yang hadir memberikan solusi di tengah masyarakat. Kami percaya bahwa ilmu pengetahuan akan memiliki makna apabila mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Oleh karena itu, kami berharap semangat pengabdian ini terus tumbuh dan menjadi budaya di kalangan mahasiswa sehingga keberadaan organisasi benar-benar memberikan dampak positif bagi masyarakat,” katanya.
Kepala Desa Gumantar, Japarti, turut memberikan apresiasi atas pelaksanaan PBSM 2026 yang dinilai memberikan manfaat bagi masyarakat maupun pemerintah desa. Ia menilai hasil identifikasi mahasiswa menjadi masukan penting dalam penyusunan program pembangunan desa ke depan.
“Kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kelompok Pemerhati Sosial beserta seluruh mahasiswa peserta PBSM 2026. Kehadiran mahasiswa memberikan warna baru bagi masyarakat melalui berbagai kegiatan edukasi, diskusi, dan pendampingan. Hasil identifikasi yang dilakukan juga menjadi masukan yang sangat berharga bagi pemerintah desa dalam menyusun program pembangunan ke depan. Kami berharap kerja sama seperti ini dapat terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya,” ujarnya.
Perwakilan masyarakat Desa Gumantar, Zainuddin, mengaku merasakan manfaat dari berbagai kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa selama sepekan. Menurutnya, para peserta tidak hanya menjalankan program, tetapi juga membaur dengan masyarakat dan ikut mencari solusi atas persoalan yang dihadapi warga.
“Kami merasa senang dengan kehadiran adik-adik mahasiswa. Mereka tidak hanya datang menjalankan program, tetapi benar-benar berbaur dengan masyarakat, mendengarkan keluhan kami, memberikan edukasi, dan ikut mencari solusi atas persoalan yang ada. Semoga kegiatan seperti ini terus dilaksanakan karena manfaatnya sangat dirasakan oleh masyarakat,” katanya.***
Penulis : Robby Firmansyah
Editor : SuluhNTB Editor










































