Konsep Wisata Heli Rinjani dan Sarana Wisata Alam TNGR

by
foto: red/suluhntb.com

Mataram, suluhntb.com – Konsep Heli Tourism dan Rencana Penyediaan Sarana Wisata Alam di Taman Nasional Gunung Rinjani;

Gunung Rinjani menawarkan keindahan alam gunung vulkanik dengan kawah berisi danau dan pemandangan alam disekitarnya yang jarang ditemukan ditempat lain, dengan keindahan alam tersebut menjadikannya salah satu destinasi wisata yang menarik wisatawan lokal maupun mancanegara termasuk para investor wisata diantaranya PT. Rinjani Glamping Indonesia (RGI) dan PT. Airbus Helicopters Indonesia (AHI)

Berkaitan dengan rencana usaha penyediaan sarana wisata alam di Kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani oleh RGI dan Heli Tourism oleh AHI telah dilakukan audiensi pada hari Selasa, 18 Februari 2020 pukul 09.30 Wita bertempat di Ruang Rapat Aula Balai TN Gunung Rinjani Mataram yang dihadiri pejabat struktural Balai TN Gunung Rinjani dan stakeholder terkait diantaranya Dinas Pariwisata NTB, Dinas LHK NTB, Dinas ESDM NTB, BPBD NTB, Basarnas, Dinas Pariwisata Lombok Timur, BP Majelis Adat Sasak, Geopark Rinjani, Forum Porter Guide Rinjani, Perwakilan Trekking Organizer (TO) termasuk wartawan lokal maupun nasional

Pada pemaparannya RGI menyampaikan masih dalam proses ijin usaha penyediaan sarana wisata alam. Sampai saat ini tahapan perijinan yang dilakukan RGI adalah Pertek (Pertimbangan Teknis) dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kab Lombok Utara pada tahun 2017 dan Pertek dari BTNGR pada tahun 2017. Masih ada beberapa tahapan yang perlu dilakuan oleh RGI yaitu penyusunan Rencana Pengusahaan Pariwisata Alam (RPPA), dokumen UKL/UPL serta konsultasi publik. Bentuk usaha sarana wisata yang rencana akan dibangun adalah sarana akomodasi semi permanen berupa Glemping yang direncanakan akan dibangun di sekitar Danau Segara Anak yang tetap akan menjamin dan memastikan minimal dampak dari sisi ekologi, estetika serta akan bersinergi dengan pelaku wisata yang telah ada agar pelaku usaha yang ada seperti TO, Guide dan Porter tetap berjalan.

AHI telah melakukan audiensi mengenai Heli-Tourism kepada Kementerian LHK cq. Ditjen KSDAE, Kementerian Pariwisata, Pemprov NTB dan Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani sejak tahun 2015. Program Heli Tourism akan diawali studi kelayakan dan uji coba yang rencananya akan dilaksanakan antara September hingga Desember 2020 untuk mempelajari dan melakukan review operasional. Seperti yang disampaikan AHI, bahwa konsep Heli-Tourism ini tidak akan mengganggu pasar wisata pendakian yang ada selama ini karena memiliki pangsa pasar yang berbeda, namun jika konsep tersebut menghadapi banyak kendala maka AHI pastinya tidak akan melanjutkan konsep tersebut
Berkenaan dengan ini, diperlukan studi kelayakan yang meliputi beberapa aspek seperti ekologi, ekonomi, sosial budaya serta aspek legal. Selain itu, salah satu aspek yang juga harus menjadi pertimbangan adalah rencana pengelolaan Taman Nasional Gunung Rinjani dengan pelibatan para pihak serta memastikan bahwa pelaku usaha yang telah ada tetap terlindungi.

BTNGR mengundang beberapa pihak untuk mendengar pemaparan pemrakarsa dalam audiensi tersebut untuk menjamin keterbukaan informasi serta memastikan buttom up proses dilakukan di Tapak sehingga parapihak mendapatkan kesempatan untuk berkontribusi mulai dalam proses perencanaan sampai kepastian implementasinya. BTNGR berharap bahwa kegiatan yang melibatkan parapihak yang dilakukan, kedepan dapat menjamin kelestarian Taman Nasional Gunung Rinjani yang mewujudkan harmonisasi alam dan budaya tetap terjaga.

Investor PT Rinjani Glamping Indonesia (RGI),  direkturnya bernama Disyon Toba, yang merupakan seorang Consultant & Advisor Nature Resort & Glamping, CEO atau Owner Consina Outdoor Service, Tosa Toraja One Step Adventure dan Toraja Coffee House.

PT Airbus Helicopters Indonesia (AHI) juga sudah siap membuka rute penerbangan Helicopter langsung menuju danau segara anak. Corporate Aircraft Sales dari AHI Sussy Kusumawardhani mengatakan, pihaknya menyiapkan helikopter airbus H130 yang bisa mendarat tanpa helipad, dan hanya memerlukan titik landing saja.

Helikopter yang dibeli oleh PT Smart Aviation seharga Rp.50 miliar tersebut, tidak mengganggu lingkungan sekitarnya, “Airbus peduli lingkungan. Tidak serta merta merusak lingkungan dan juga pasar pendakian,” kata Sussy.

Untuk keperluan heli wisata ini disiapkan tiga lokasi stand by, yaitu di Bandara Selaparang (Mataram), Sembalun di Lombok Timur dan Gili Lombok Utara.

Perusahan yang bergerak dalam bisnis transportasi udara khususnya Helicopter ini bermarkas di Menara Cardig 4th Floor Jl. Raya Halim Perdanakusuma Jakarta Timur.

Menurut Sussy, ia memberi pemahaman bahwa perusahaannya bukan penyedia helikopter. Airbus hanya menawarkan konsep Heli Tourism, namun pada saatnya akan melibatkan Smart Cakrawala Aviation sebagai pemilik dan operator Helikopter Sementara Consina melalui perusahaannya PT. Rinjani Glamping Indonesia dilibatkan sebagai tour operator.

Smart Cakrawala Aviation atau Smart Aviation sebagai pengelola Heli Tourism merupakan perusahaan jasa angkutan udara niaga yang bergerak dalam bidang usaha jasa angkutan udara untuk survey, foto udara, penumpang, kargo, evakuasi medis dan VIP Charter. Beralamat di Smartdeal Building, Jl. Cideng Timur No. 16A, Jakarta Pusat, Komisaris utama bernama Pongky Majaya. (red/ydh)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *