Diskusi Industri Milenial Bentuk Tim Perumus Asosiasi Kopi Dalam Rangka Sinergi Membangun Industri Kopi NTB

by
Foto: red/suluhntb.com

Mataram, suluhntb.com – Di tengah derasnya hujan pada malam Jum’at, 3 Januari 2020 kemarin, Kegiatan Ngopi Eksis yang diadakan Dinas Perindustrian tetap dilaksanakan dan berjalan dengan lancar. Kegiatan ini dilaksanakan pada di berugaq halaman depan kantor Dinas Perindustrian Provinsi NTB. Tema yang diangkat dalam diskusi kali ini yaitu “Sinergi Membangun Industri Kopi.”

Peserta yang hadir berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pelaku industri kopi sampai dengan mahasiswa.

Dalam kesempatan tersebut, Lalu Thoriq selaku orang yang sudah bergelut di dunia kopi khususnya di dunia ekspor-impor mengatakan bahwa kopi-kopi di NTB perlu standarisasi, seperti standarisasi bahan baku, standarisasi pengolahan kopi, dan standarisasi dalam proses roasting.

Ia juga menyampaikan beberapa permasalahan yang dialami selama bergelut di industri kopi yaitu belum ada yang mampu memproduksi kopi, khususnya arabica dalam jumlah yang cukup dan kualitas yang bagus serta harga yang tidak stabil.
Hairul Azmi selaku fasilitator petani kopi mengatakan bahwa salah satu penyebab kopi NTB tidak laku di nasional yaitu proses pasca panen. Kurangnya pengetahuan tentang pelakuan terhadap kopi pada pasca panen menyebabkan kualitas kopi menurun. “Oleh sebab itu, pemerintah perlu memberikan kelas-kelas atau penyuluhan terkait kopi yang berkualitas.” Tambahnya.
“NTB belum punya brand kopi yang jelas. Diskusi Industri Milenial Bentuk Tim Perumus Asosiasi Kopi Dalam Rangka Sinergi Membangun Industri Kopi NTB. Sehingga kita butuh masukan dari pelaku yang punya kopi dan pelaku yang memasarkan untuk mencari tahu apa yang menjadi permasalahan selama ini dan apa yang perlu kita lakukan ke depannya.” Ungkap Plt Kadis Perindustrian Ibu Nuryanti SE., ME.

Foto: red/suluhntb.com

Salah satu output yang dihasilkan dari forum ini yaitu pembentukan tim perumus pembentukan kelompok asosiasi kopi. Tim tersebut terdiri pelaku industri kopi, Masyarakat Ekonomi Syariah, Asosiasi Pengusaha dan Perajin Logam (ASPPEL), BI, dan dari Dinas Perindustrian. Terbentuknya asosiasi ini ke depannya diharapkan dapat menampung aspirasi petani kopi, penjual kopi, IKM Kopi, dan pelaku industri sehingga pemerintah bisa memberikan solusi dan bantuan yang tepat sasaran.
“Sebagai langkah awal, semoga forum ini ke depannya bisa menjadi gerakan besar yang bisa merealisasikan NTB untuk bisa memiliki industri kopi.” Ungkap kepala Bank Indonesia menutup kegiatan diskusi milenial ini. (red/ydh)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *